Mengapa Kita Seolah Malu?

 


 

 

 

 

 

Wong Jawa Aja Jawal

 

 

Mengapa Kita Malu pada Kecerdasan

Leluhur Sendiri?

 

 

Sebuah refleksi bersama tentang kepercayaan diri, identitas, dan kebanggaan sebagai pewaris peradaban Jawa dan Nusantara yang agung.

 

“wong jawa aja jawal, jawa jawal jawane kadhal. Apa sliramu jawa mitraku? Genea kok ngiris atiku?”

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wong Jawa Aja Jawal

 

 

Sebelum kita memulai, mari kita renungkan bersama puisi yang ditulis oleh sastrawan Jawa. Puisi ini bukan sekadar rangkaian kata ini adalah jeritan hati seorang yang mencintai budayanya, yang terluka melihat bangsanya sendiri meremehkan warisannya.

 

 

 

Ranggawarsita lan Aristoteles. Yasadipura lan Sokrates. Padha dene pujangga linuhung. Padha dene pujangga kang agung.

 

 

Yen kok semak buku filsafat, yen kok semak ilmu masyarakat, mung ana siji keblat, kang ajine ora mekakat. Kang gawe ati ngranta. Sawit mung

 

Aristoteles lan Sokrates, sinebut sinobya ukara. Rinoncen kembang maneka.

 

 

O, Ranggawarsita. O, Yasadipura. Awit apa basa jawa kang ora bisa diwaca? Awit apa mung basa latin kang ora bisa anuntun batin? Wong jawa aja jawal. Jawa jawal jawane kadhal. Apa sliramu njawa, mitraku. Gene-a kok ngiris atiku?

Kecubung wungu ing taman kutha, iki kahanan kang nembe teka. Apa sliramu bakal wudha, melu-melu ngumbar dhadha? Wiwawite lesmbadhong. Tabik-tabik Sunan Kali. Kita ngadeg ing grumbul srengenge. Kita wani ndudah ati?

 

 

 

Puisi ini mengajak kita bertanya: Apakah kita masih berani berdiri di bawah matahari sendiri, atau kita lebih nyaman bersembunyi di balik bayang- bayang peradaban orang lain?

 

Penyakit yang Tidak Kita Sadari: Inferioritas Budaya

 

 

Kita hidup di zaman di mana nama-nama seperti Aristoteles, Sokrates, Plato, dan Einstein dianggap sebagai puncak kecerdasan manusia. Buku- buku filsafat Barat menjadi rujukan utama di kampus-kampus kita. Gelar akademis kita diukur dengan standar yang dibuat di Eropa. Bahkan cara kita berpikir tentang diri sendiri pun telah dibentuk oleh cara pandang yang bukan milik kita.

 

Yang Kita Banggakan

·         Filsafat Yunani kuno Sains Barat modern

·         Teori dari universitas Eropa dan Amerika

 

·         Bahasa Inggris sebagai "bahasa ilmu" Sertifikasi dan gelar bergengsi dari luar negeri

·         Karya sastra dan seni Barat Universal

 

Yang Kita Lupakan

 

 

·         Filsafat Jawa yang dalam dan menyeluruh

·         Ilmu pengetahuan Nusantara yang kaya

·         Sastra kakawin dan serat yang agung

·         Bahasa Jawa yang penuh makna kosmis

·         Para pujangga yang menulis dengan jiwa

·         Kearifan lokal yang terbukti bertahan berabad-abad

 

 

Inilah yang disebut inferioritas budaya rasa tidak percaya diri yang mengakar bahwa apa yang kita miliki tidak cukup baik, tidak cukup ilmiah, tidak cukup modern. Padahal, rasa ini bukan lahir dari kenyataan, melainkan dari proses penjajahan pikiran yang berlangsung selama berabad-abad.

 

 

 

Ronggowarsita Setara Aristoteles. Yasadipura

Setara Sokrates.

 

Puisi pemantik kita menyatakan dengan tegas: Ronggowarsita dan Aristoteles, Yasadipura dan Sokrates mereka adalah para pujangga linuhung yang setara. Ini bukan klaim kosong. Ini adalah pernyataan yang perlu kita pahami dengan sepenuh hati.

 

Aristoteles (384322 SM)

 

Filsuf Yunani yang mengembangkan logika, etika, metafisika, dan ilmu alam. Karyanya menjadi fondasi pemikiran Barat selama dua milenium. Ia menulis tentang kebahagiaan, keadilan, dan hakikat manusia.

 

Ranggawarsita (1802–1873)

Pujangga besar Jawa yang menulis Serat Kalatidha, Serat Sabdajati, dan ratusan karya lainnya. Ia meramalkan zaman edan, berbicara tentang keseimbangan kosmis, dan mengajarkan tentang makna hidup dengan kedalaman yang tidak kalah dari filsuf manapun di dunia.

 

Sokrates (469399 SM)

Filsuf Yunani yang mengajarkan melalui dialog dan pertanyaan. Ia percaya bahwa "hidup yang tidak teruji tidak layak dijalani." Metodenya yang dialektis menjadi dasar pendidikan kritis di seluruh dunia.

 

Yasadipura (17291802)

Sastrawan agung Keraton Surakarta yang menulis Serat Menak, Serat Rama, dan banyak karya sastra Jawa lainnya. Ia adalah guru spiritual dan intelektual bagi ribuan muridnya, mengajarkan kebijaksanaan melalui cerita dan tembang.

 

Keduanya dari Yunani dan dari Jawa berbicara tentang hal yang sama: hakikat manusia, makna kehidupan, dan cara menjadi manusia yang baik. Mengapa satu dianggap "filsafat universal" sementara yang lain dianggap "tradisi lokal"?


Mengapa Kita Lebih Percaya pada Yang "Barat"?

 

 

Pertanyaan ini tidak mudah, tetapi penting untuk kita jawab bersama. Ada beberapa lapisan penyebab mengapa kita orang Jawa, orang Nusantara lebih mudah percaya pada kecerdasan yang datang dari luar daripada dari dalam diri kita sendiri.

 

 

1. Warisan Kolonialisme Pikiran

 

Penjajahan bukan hanya soal tanah dan sumber daya, tetapi juga soal pikiran. Selama berabad-abad, kita diajarkan bahwa budaya kita primitif, bahasa kita tidak ilmiah, dan kepercayaan kita takhayul. Pesan ini meresap begitu dalam hingga kita pun mulai mempercayainya sebagai kebenaran mutlak.

 

 

2. Sistem Pendidikan yang Mengasingkan

 

Kurikulum pendidikan kita lebih banyak mengajarkan sejarah Eropa daripada sejarah Nusantara. Filsafat yang diajarkan adalah filsafat Barat. Sastra yang dianggap "serius" adalah sastra terjemahan. Anak-anak kita lebih hafal nama-nama filsuf Yunani daripada pujangga tanah air sendiri.

 

3. Standar "Ilmiah" yang Dibuat Orang Lain

 

Kita mengukur kecerdasan dengan standar yang bukan kita buat. Jurnal internasional yang bereputasi adalah jurnal berbahasa Inggris. Teori yang diakui adalah teori dari universitas Barat. Pengetahuan lokal dianggap "anekdot" kecuali sudah divalidasi oleh lembaga dari luar.

 

4. Rasa Malu yang Telah Diinternalisasi

 

Yang paling menyedihkan adalah ketika rasa malu ini sudah menjadi bagian dari identitas kita. Kita malu berbicara bahasa Jawa di forum formal. Kita malu menyebut wayang sebagai "seni tinggi." Kita malu mengaku bahwa leluhur kita adalah orang-orang yang cerdas dan beradab.


Intan-Intan Peradaban Jawa yang Kita Abaikan

 

Sementara kita sibuk mengagumi peradaban lain, kita lupa bahwa di tanah kita sendiri tersimpan kekayaan intelektual dan spiritual yang luar biasa. Ini bukan soal membanggakan diri secara buta ini soal mengenal dan mengakui apa yang memang sudah ada di depan mata kita.

 

Sastra Kakawin & Serat

Karya-karya seperti Kakawin Bharatayuddha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, Serat Wedhatama, Serat Kalatidha, dan ratusan serat lainnya adalah karya sastra-filosofis yang dalam. Mereka membahas tentang dharma, kosmologi, etika, dan makna hidup dengan kompleksitas yang setara dengan karya filsafat manapun di dunia.

 

Filsafat Jawa

Konsep-konsep seperti manunggaling kawula gusti, sangkan paraning dumadi, tepo seliro, dan memayu hayuning bawana adalah sistem pemikiran yang utuh tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta. Ini adalah filsafat yang hidup dan dipraktikkan, bukan sekadar teori di atas kertas.

 

Seni sebagai Media Ilmu

Wayang, gamelan, tari, dan tembang bukan sekadar hiburan. Mereka adalah media penyampaian ilmu, nilai, dan kebijaksanaan. Dalang adalah filsuf. Gending adalah meditasi. Setiap gerakan tari mengandung makna kosmologis. Seni Jawa adalah ensiklopedia kehidupan yang disampaikan dengan keindahan.

 

Kearifan Ekologis

Tradisi selamatan, ruwatan, sedekah bumi, dan berbagai ritual Jawa mengandung pemahaman mendalam tentang keseimbangan ekosistem dan hubungan manusia dengan alam. Leluhur kita sudah berbicara tentang keberlanjutan dan harmoni lingkungan jauh sebelum istilah ini populer di dunia Barat.



 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bahasa Jawa: Bukan Sekadar Alat Komunikasi

 

 

"Awit apa basa jawa kang ora bisa diwaca? Awit apa mung basa latin kang ora bisa anuntun batin?"

 

 

Pertanyaan dalam puisi ini sangat tajam: Mengapa hanya bahasa Latin yang dianggap bisa menuntun batin, sementara bahasa Jawa tidak?

Ini adalah pertanyaan yang harus kita jawab dengan jujur.

 

 

Kekayaan Bahasa Jawa

 

Tingkatan bahasa (ngoko, madya, krama) mencerminkan pemahaman mendalam tentang hierarki sosial dan etika

 

Ungkapan filosofis seperti "alon-alon waton kelakon" bukan sekadar nasihat, tapi prinsip hidup yang dalam

 

Tembung-tembung yang tidak bisa diterjema

hkan langsung ke bahasa lain karena mengandung konsep unik

 

Sastra lisan yang kaya dengan metafora, simbol, dan makna berlapis

 

 

Bahasa Membentuk Cara Berpikir

 

Para ahli linguistik mengakui bahwa bahasa yang kita gunakan membentuk cara kita memandang dunia. Ketika kita meninggalkan bahasa Jawa, kita juga meninggalkan cara pandang tertentu terhadap kehidupan cara pandang yang penuh dengan rasa hormat, keseimbangan, dan kedalaman spiritual.

 

Bahasa Latin dianggap "bahasa ilmu" bukan karena secara inheren lebih unggul, tetapi karena kekuasaan politik dan agama yang menyertainya. Bahasa Jawa memiliki potensi yang sama besar untuk menjadi bahasa ilmu, filsafat, dan sastra tinggi jika kita mau mempercayainya.

 

Setiap bahasa adalah sebuah dunia. Ketika kita kehilangan bahasa, kita kehilangan dunia itu.

 

 

 

Apa yang Hilang Ketika Kita Kehilangan

Kepercayaan Diri Budaya?

 

Ketidakpercayaan diri budaya bukan sekadar perasaan. Ia memiliki dampak nyata dan konkret dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam pendidikan anak-anak kita, dan dalam cara kita memandang masa depan.

 

 

Krisis Identitas Generasi Muda

Anak-anak kita tumbuh tanpa akar. Mereka tidak tahu siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan apa yang membuat mereka unik. Mereka mencari identitas di tempat yang salah di tren global, di budaya pop asing, di nilai-nilai yang tidak berakar pada pengalaman hidup mereka sendiri. Hasilnya adalah generasi yang tercerabut, bingung, dan mudah terpengaruh.

 

 

Hilangnya Pengetahuan Lokal yang Berharga

Setiap bahasa yang punah membawa serta ribuan tahun pengetahuan tentang obat-obatan, pertanian, astronomi, dan ekologi. Setiap tradisi yang ditinggalkan membawa serta cara-cara bijaksana untuk hidup bersama, menyelesaikan konflik, dan merawat komunitas. Ketika kita malu pada tradisi kita, kita membiarkan semua ini lenyap tanpa pernah kita catat dan wariskan.

 

Ketergantungan Intelektual

Kita menjadi konsumen pengetahuan, bukan produsen. Kita menunggu teori dari luar untuk memvalidasi apa yang sudah kita ketahui. Kita menunggu pengakuan dari lembaga asing untuk merasa bahwa karya kita berharga.

Ini adalah bentuk penjajahan yang paling halus

penjajahan di mana kita sendiri yang memegang rantai.

 

 

Melemahnya Kohesi Sosial

Budaya yang kuat adalah perekat sosial. Ritual bersama, nilai-nilai yang dipegang bersama, cerita-cerita yang diwariskan bersama semua ini menciptakan rasa memiliki dan solidaritas. Ketika budaya kita lemah, ikatan sosial kita juga melemah. Kita menjadi individu-individu yang terisolasi, mudah dipecah belah, dan kehilangan rasa tujuan bersama.

 

 

 

Bagaimana Kita Membangun Kembali Kepercayaan

Diri Budaya?

 

Mengakui masalah adalah langkah pertama. Langkah berikutnya adalah bertindak. Ini bukan tentang menolak segala sesuatu dari luar ini tentang menemukan keseimbangan, tentang berdiri dengan kedua kaki di tanah kita sendiri sambil tetap terbuka pada dunia.

 

Mulai dari Diri Sendiri

Berhenti malu berbicara bahasa Jawa. Baca karya-karya pujangga kita. Pelajari filsafat Jawa dengan sungguh-sungguh. Ceritakan pada anak-anak kita tentang Ronggowarsita, Yasadipura, dan para leluhur kita yang lain dengan kebanggaan yang tulus.

 

Revitalisasi di Lingkungan Keluarga

Jadikan bahasa Jawa sebagai bahasa rumah. Ajarkan tembang dan dongeng kepada anak-anak. Rayakan tradisi dengan penuh makna, bukan sekadar rutinitas. Jadikan rumah sebagai benteng pertama pelestarian budaya.

 

 

Perkuat Komunitas Lokal

Aktifkan kembali kegiatan budaya di dusun: wayangan, gamelan, macapat, dan

berbagai tradisi lainnya. Jadikan ini ruang

belajar bersama, bukan sekadar hiburan. Undang para sesepuh untuk berbagi ilmu dan pengalaman mereka.

 

 

Integrasikan dalam Pendidikan

Dorong agar kurikulum lokal memasukkan lebih banyak materi tentang sejarah, filsafat, dan sastra Nusantara. Bicara dengan guru dan pengambil keputusan di sekolah tentang pentingnya ini. Pendidikan adalah investasi terbesar untuk masa depan budaya kita.

 

 

Produksi Pengetahuan dari Dalam

Tulis, teliti, dan publikasikan pengetahuan lokal dengan standar yang tinggi. Jangan menunggu validasi dari luar untuk merasa bahwa karya kita berharga. Kita mampu menciptakan standar kita sendiri yang lahir dari nilai-nilai kita.

 

 

Kita Berdiri di Grumbul Srengenge

 

“Kita ngadeg ing gumbul srengenge, kita wani ndudah ati?”

 

Puisi ini menutup dengan sebuah tantangan: beranikah kita jujur pada diri sendiri? Beranikah kita mengakui bahwa kita telah lama mengabaikan kekayaan yang ada di depan mata? Beranikah kita berubah?

 

 

Yang Kita Miliki

 

Peradaban yang berusia ribuan tahun

Bahasa yang kaya dan dalam Filsafat yang utuh dan menyeluruh Seni yang penuh makna

Leluhur yang cerdas dan beradab

Kearifan yang terbukti bertahan

 

 

Yang Kita Butuhkan

 

Keberanian untuk mengakui nilai diri kita

Kejujuran untuk melihat apa yang telah kita abaikan Kebanggaan yang lahir dari pengetahuan, bukan dari kesombongan

Komitmen untuk mewariskan ini kepada anak cucu Keterbukaan untuk belajar dari semua sumber, tanpa kehilangan akar

Cinta yang tulus pada tanah dan budaya kita

 

 

 

Sarasehan ini bukan akhir, melainkan awal. Awal dari sebuah perjalanan untuk mengenal diri kita sendiri dengan lebih baik, untuk mencintai warisan kita dengan lebih dalam, dan untuk berdiri tegak sebagai orang Jawa, orang Nusantara, dengan kepala tegak dan hati yang penuh.



Wong Jawa Aja Jawal (Suripan Hadi Utomo)

wong jowo ojo jawal. 

jowo jawal jawane kadhal.

opo sliramu njowo, mitraku. 

gene-o kok ngiris atiku?

 

ronggowarsita lan aristoteles. 

yasadipura lan sokrates. 

padho dene pujonggo linuhung. 

podho dene pujonggo kang agung

 

yen kok semak buku filsafat

yen kok semak ilmu masyarakat. 

mung ana siji keblat, 

kang ajine ora mekakat. 

kang gawe ati ngronto. 

sawit mung aristoteles lan sokrates, 

sinebut sinobya ukoro. 

rinoncen kembang maneko

 

o, ronggowarsito 

o, yasadipuro. 

awit apa basa jowo. 

kang ora bisa diwaca? 

awit apa mung basa latin. 

kang ora bisa anuntun batin?

 

wong jowo ojo jawal. 

jowo jawal jawane kadhal. 

apa sliramu njowo, mitraku. 

gene-o kok ngiris atiku

 

kecubung ungu ing taman kutho 

iki kahanan kang nembe teko. 

apa sliramu bakal wudho. 

melu-melu ngumbar dhodho?

 

wiwawite lesmbadhong. 

tabik-tabik sunan kali. 

kita ngadeg ing grumbul srengenge. 

kita wani ndudah ati?




Sis Setio

 

 

 




 

 






 

 

 








 

 

 




 

 

 





 

 

 

 

 

 

 




 

 

 

 




 

 

 





 

 

 



    



    


 


 




 





 

 

 

 





 

*

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama