Benih Dibalik Cermin

 




 

Benih di Balik Cermin

 Sebuah Renungan Sufistik tentang Jiwa, Raga, dan Kehadiran Ilahi

 

 

Selamat datang dalam ruang renungan ini sebuah sarasehan yang mengajak kita menyelami kedalaman makna tersembunyi di balik kata-kata yang tampak sederhana, namun menyimpan samudra makna yang tak bertepi. Malam ini, kita akan berjalan bersama melalui puisi yang bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah dzikir dalam bentuk sastra

sebuah undangan untuk mengenal diri sendiri, dan melalui pengenalan itu, mengenal Dzat-Nya.

 

Puisi yang akan kita renungi bersama malam ini berbicara tentang pergulatan jiwa manusia yang terjebak dalam raga dan dunia, dalam upayanya untuk kembali menyatu atau menyadari kehadiran Sang Pencipta. Ia berbicara tentang benih ilahi yang tertanam dalam diri kita, tentang ranjau berbaju keindahan yang membuat batin terlena, tentang cermin yang memantulkan bukan wajah kita, melainkan wajah Dzat yang paling dalam. Dan ia berbicara tentang sebuah keadaan yang disebut "Persa" sebuah kata Jawa halus yang berarti "tahu" atau "paham" secara mendalam, bukan sekadar tahu dengan akal, melainkan tahu dengan seluruh keberadaan jiwa.

 

 

Mari kita buka hati dan pikiran kita. Dalam keheningan yang penuh makna, mari kita dengarkan suara lirih yang berbicara dari dalam puisi ini suara yang mungkin sudah lama kita kenal, namun terlalu sering kita abaikan dalam hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.


 

"Benih di Balik Cermin"


Banyak batu, Ranjau berbaju keindahan

 

Sewajarnya batin terlena

 

Baju ini terkadang menghalangi pandangan

 

Menghalangi sir-sir yang sebenarnya mulai berbenih

 

Benih itu dzat-Nya, menampik, bahkan memintanya bukan tugasku Mungkin merawatnya, mungkin merawatnya saja tak bisa aku Hanya berusaha, berusaha untuk merawatnya

Menyiram, memupuk, tapi tak ada kuasa mencabutnya aku

 

 

Beberapa janji yang tak pernah aku tahu cara menepatinya

 

Berusaha merawat mungkin usaha untuk menepatinya

 

Sudah pernah aku atau kamu terbangun, lapar, menyendiri lalu kemudian diam

 

Diam yang banyak kata, suratan, dan siratan dari sir

 

Yang kemudian tak akan tahu duka, bahkan cita, semua hambar

 

Karena aku atau kamu sudah seyogyanya disana bersama-Nya

 

Bersanding, perkawinan tanpa pesta, lalu seperti saat sekarang aku atau kamu berdampingan dengan-Nya

 

Dari sana kita, disana seyogyanya kita berada

 

 

Banyak batu, ranjau berbaju keindahan, sudah sewajarnya kita terlena

 

Jangan tatap aku, dinding, atau pintu

 

Dimuka ada cermin

 

Pusatkan penglihatanmu ke muka, Tak perlu menoleh ke kiri atau ke kanan

 

Debunya mengambang disini, tapi dia

 

Berada di ketak-terbatasan.

 

Seandainya tak terhalang jasad, aku atau kamu akan persa, benih apa yang Ia tanam.

 

 

 Puisi ini bukan puisi biasa. Ia adalah sebuah laku sebuah perjalanan batin yang ditulis dengan tinta kesabaran dan dirangkai dengan benang-benang kerinduan kepada Yang Maha Hadir. Setiap barisnya adalah sebuah pintu. Dan malam ini, kita akan mencoba membuka pintu-pintu itu bersama-sama.



 

Pergulatan Jiwa dalam Raga


Puisi ini berbicara tentang sebuah pergulatan yang sangat manusiawi: jiwa yang rindu pulang, namun terikat dalam raga. Jiwa yang ingin menyatu dengan Sumbernya, namun terhalang oleh dinding-dinding dunia yang begitu nyata dan begitu menggoda. Ini adalah pergulatan yang kita semua rasakan, meski mungkin tidak semua dari kita mampu mengatakannya dengan kata-kata.

 

Dalam tradisi sufisme, perjalanan ini dikenal sebagai rihlah ruhiyah perjalanan spiritual menuju Tuhan. Namun perjalanan ini bukan perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan ke dalam diri sendiri, ke lapisan-lapisan terdalam dari kesadaran kita, ke tempat di mana ruh kita masih ingat akan asal-usulnya sebelum ia turun ke dunia ini. Seorang sufi berkata: "Tuhan lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu." Namun mengapa kita merasa begitu jauh? Karena ada banyak lapisan yang harus kita tembus lapisan-lapisan yang dibangun oleh keinginan, oleh ketakutan, oleh kebiasaan, dan oleh semua "ranjau

berbaju keindahan" yang disebutkan dalam puisi ini.

 

Jiwa (Ruh)

 

Bagian terdalam dari diri kita yang berasal dari Dzat-Nya. Ia rindu untuk kembali menyatu dengan Sumbernya, seperti setetes air yang rindu kembali ke lautan. Jiwa inilah yang "terbangun, lapar, menyendiri" yang merasakan kehausan akan sesuatu yang

melampaui dunia.

 

Raga (Jasad)

 

Wadah yang menampung jiwa di dunia ini. Raga adalah "baju" yang disebutkan dalam puisi ia diperlukan, namun ia juga bisa menjadi penghalang. Raga memiliki kebutuhan, keinginan, dan keterbatasannya sendiri yang sering kali membuat jiwa terlena dan lupa akan tujuan sejatinya.

 

Dunia

 

Medan pergulatan. Dunia adalah tempat di mana "banyak batu, ranjau berbaju keindahan" bertebaran. Ia tidak jahat pada dirinya sendiri, namun ia penuh dengan godaan yang membuat batin terlena dan lupa akan dzikir yang sesungguhnya.

 

Yang menarik dari puisi ini adalah bahwa ia tidak menggambarkan pergulatan ini sebagai sesuatu yang dramatis atau penuh gejolak. Sebaliknya, ia digambarkan dengan nada yang tenang, hampir seperti sebuah pengakuan yang tulus di tengah malam yang sunyi. Ini mencerminkan sebuah pemahaman sufistik yang mendalam: bahwa perjalanan spiritual bukanlah tentang pertempuran yang keras, melainkan tentang kesadaran yang perlahan-lahan tumbuh seperti benih yang berkecambah dalam diam.


Sir Rahasia Terdalam Jiwa

 

 

Dalam kosakata sufisme, kata "Sir" (atau sirr dalam bahasa Arab) merujuk pada lapisan terdalam dari hati manusia sebuah ruang yang begitu rahasia, begitu intim, sehingga hanya Tuhan dan jiwa itu sendiri yang dapat memasukinya. Ia adalah

"mata batin terdalam," tempat di mana komunikasi antara hamba dan Penciptanya terjadi tanpa kata, tanpa ritual, tanpa perantara. Ia adalah ruang munajat yang paling murni.

 

Para sufi membagi hati manusia ke dalam beberapa lapisan. Yang paling luar adalah qalb (hati), kemudian fuad (inti hati), kemudian lubb (teras hati), dan yang paling dalam adalah sirr rahasia. Di lapisan sirr inilah, menurut para sufi, Tuhan "bersemayam" dalam pengertian spiritual. Ia adalah tempat pertemuan antara yang fana dan yang Baqa (Kekal). Ketika seseorang mencapai lapisan ini dalam perjalanan spiritualnya, ia tidak lagi berdoa dengan kata-kata ia menjadi doa itu

sendiri.

 

 

Sir sebagai Rahasia

 

Sebuah ruang yang tidak dapat diakses oleh orang lain, bahkan oleh diri kita sendiri tanpa latihan spiritual yang mendalam. Ia adalah "rahasia" antara hamba dan

Tuhannya.

 

 

Sir sebagai Mata Batin

 

Kemampuan untuk "melihat" yang tidak kasat mata untuk merasakan kehadiran Ilahi dalam keheningan, dalam diam, dalam setiap helaan napas.

 

 

Sir yang Berbenih

 

Dalam puisi ini, sir-sir "mulai berbenih" artinya, potensi untuk menyadari kehadiran Ilahi sudah tertanam dalam diri setiap manusia, menunggu untuk disirami dan dipupuk.

 

 

Ketika puisi ini mengatakan "Menghalangi sir-sir yang sebenarnya mulai berbenih," ia berbicara tentang bagaimana dunia dengan segala "baju keindahannya" dapat menutupi lapisan terdalam ini. Kita menjadi terlalu sibuk dengan yang luar, sehingga lupa bahwa di dalam diri kita ada sebuah ruang suci yang menunggu untuk dijamah. Kita seperti seseorang yang sibuk membersihkan bingkai cermin, namun lupa bahwa cermin itu sendiri sudah tertutup debu.

 

 

Yang menarik, puisi ini menggunakan bentuk jamak: sir-sir. Ini mengisyaratkan bahwa setiap manusia memiliki sirr-nya sendiri sebuah rahasia unik antara dirinya dan Tuhannya. Tidak ada dua sirr yang sama, karena tidak ada dua perjalanan spiritual yang identik. Setiap jiwa memiliki jalannya sendiri menuju Dzat-Nya.

 

 

Persa Tahu yang Melampaui Akal

 

 

Kata "Persa" dalam bahasa Jawa halus atau kuno berarti "tahu" atau "paham." Namun dalam konteks puisi ini, "tahu" yang dimaksud bukan sekadar tahu dengan akal budi, bukan sekadar tahu dengan membaca atau mendengar. Ini adalah tahu yang datang dari pengalaman langsung sebuah pengetahuan yang meresap ke dalam seluruh keberadaan seseorang, seperti air yang meresap ke dalam tanah.

 

 

Dalam tradisi spiritual Jawa, ada perbedaan yang sangat penting antara ngerti (tahu secara intelektual) dan persa (tahu secara eksistensial). Seseorang bisa ngerti tentang Tuhan ia bisa membaca kitab-kitab, mendengarkan ceramah, menghafal dalil-dalil. Namun untuk persa, ia harus mengalami sendiri. Ia harus "terbangun, lapar, menyendiri, lalu kemudian

diam"  seperti yang digambarkan dalam puisi ini. Hanya melalui pengalaman itulah seseorang bisa benar-benar persa.


 


 

 

Ngerti (Tahu Intelektual)

 

 

·         Diperoleh melalui belajar dan membaca

·         Tinggal di permukaan pikiran

·         Dapat disampaikan dengan kata-kata

·         Bersifat sementara dan bisa terlupakan

·         Tidak mengubah cara seseorang hidup

 

Persa (Tahu Eksistensial)

 

 

·      Diperoleh melalui pengalaman langsung

·      Meresap ke dalam seluruh keberadaan

·      Sering kali tak terungkapkan dengan kata

·         Menjadi bagian dari diri yang permanen

·         Mengubah cara seseorang memandang dunia


 

 

Baris terakhir puisi ini sangat menggugah: "Seandainya tak terhalang jasad, aku atau kamu akan persa, benih apa yang Ia tanam." Ini adalah sebuah pengakuan yang tulus tentang keterbatasan manusia. Kita ingin tahu kita ingin persa namun ada sesuatu yang menghalangi kita. Dan penghalang itu, menurut puisi ini, adalah jasad kita sendiri.

 

Ini bukan berarti raga adalah sesuatu yang jahat. Dalam pandangan sufistik yang seimbang, raga adalah amanah sebuah titipan yang harus dijaga. Namun raga juga memiliki keterbatasannya. Ia terikat pada ruang dan waktu, pada lapar dan haus, pada sakit dan sehat. Dan selama kita masih terikat pada semua itu, ada sebagian dari kesadaran kita yang tidak pernah sepenuhnya bebas untuk persa. Namun justru di situlah letak keindahan perjalanan spiritual: kita belajar untuk persa meskipun kita masih berjasad. Kita belajar untuk melihat melampaui batas-batas yang diberikan oleh raga kita


Cermin dan Prinsip Man 'Arafa Nafsahu

 

 

Metafora "cermin" dalam puisi ini adalah salah satu metafora yang paling kaya dan paling dalam dalam tradisi sufistik. Cermin, dalam pengertian biasa, memantulkan apa yang ada di depannya. Namun dalam konteks sufistik, cermin memiliki makna yang jauh lebih dalam. Cermin bukan sekadar memantulkan wajah kita cermin memantulkan kebenaran tentang siapa kita sebenarnya.

 

 

 

"Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu"

 

"Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya."

 

 

 

 

 

Prinsip ini adalah kunci untuk memahami seluruh puisi ini. Jika kita ingin mengenal Tuhan, kita tidak perlu pergi jauh-jauh. Kita tidak perlu mendaki gunung atau menyeberangi lautan. Kita hanya perlu mengenal diri kita sendiri mengenal lapisan-lapisan terdalam dari keberadaan kita, mengenal sirr kita, mengenal benih yang tertanam dalam diri kita. Karena di

situlah, menurut tradisi ini, Tuhan "bersemayam" dalam pengertian spiritual.


 

 

Cermin sebagai Diri Sendiri

 

Ketika puisi mengatakan "Dimuka ada cermin / Pusatkan penglihatanmu ke muka," ia mengajak kita untuk berhenti mencari Tuhan di luar diri kita. Tuhan tidak ada di "aku, dinding, atau pintu" Tuhan ada dalam cermin diri kita sendiri. Mencari Tuhan di luar adalah seperti mencari kacamata yang sedang kita pakai.

 

Cermin yang Berdebu

 

"Debunya mengambang disini" debu ini adalah segala sesuatu yang menutupi kejernihan cermin kita: ego, keinginan duniawi, keterikatan, dan semua "ranjau berbaju keindahan." Cermin yang berdebu tidak bisa memantulkan dengan jelas. Demikian pula, hati yang tertutup debu dunia tidak bias "melihat" dengan jelas.

 

              

               Tak Perlu Menoleh ke Kiri atau Kanan

 

Instruksi ini sangat penting dalam konteks spiritual. "Kiri dan kanan" melambangkan segala sesuatu yang mengalihkan perhatian kita dari tujuan utama. Dalam perjalanan spiritual, godaan untuk "menoleh" untuk terdistraksi oleh hal-hal duniawi adalah godaan yang paling umum dan

paling berbahaya.


 

 

Yang sangat indah dari metafora cermin ini adalah bahwa cermin tidak pernah berusaha untuk memantulkan. Ia hanya ada dalam keadaan bersih, dan pantulan terjadi dengan sendirinya. Demikian pula dalam spiritualitas: kita tidak bisa menghasilkan kesadaran spiritual dengan usaha keras. Kita hanya bisa membersihkan cermin kita menyiram, memupuk, merawat benih dan membiarkan sisanya terjadi dengan sendirinya. Ini adalah sebuah pelajaran tentang tawakkal yang sangat dalam.

 

Ranjau Berbaju Keindahan dan Benih yang Tertanam

 

 

Salah satu frasa yang paling kuat dalam puisi ini adalah "Banyak batu, Ranjau berbaju keindahan." Ini adalah sebuah gambaran yang sangat tepat tentang bagaimana godaan dunia bekerja. Godaan yang paling berbahaya bukanlah godaan yang tampak jahat atau menakutkan. Godaan yang paling berbahaya adalah godaan yang tampak indah yang datang dengan wajah yang ramah, dengan janji-janji yang menggoda, dengan kemasan yang begitu menarik sehingga kita tidak sadar bahwa itu adalah sebuah "ranjau."

 

 

Dalam bahasa Jawa, ada ungkapan "gula anget" gula yang hangat, sesuatu yang tampak manis namun bisa membakar. Demikian pula dengan "ranjau berbaju keindahan" ini. Ia bisa berupa pujian yang membuat kita sombong, harta yang membuat kita lupa diri, jabatan yang membuat kita merasa lebih dari orang lain, atau bahkan pengetahuan spiritual yang membuat kita merasa lebih "suci" dari orang lain. Semua ini adalah "baju keindahan" yang bias membuat batin kita terlena.

 

Ranjau-Ranjau yang Umum

 

 

Ketenaran dan pujian membuat kita terikat pada pengakuan orang lain

Harta dan kekayaan membuat kita lupa bahwa semua itu hanya titipan

Pengetahuan tanpa amal membuat kita merasa sudah "tiba" padahal belum

 

Ibadah tanpa kehadiran hati ritual tanpa ruh, bentuk tanpa isi

Kenyamanan duniawi membuat kita nyaman terlena dan lupa untuk "terbangun"

 

Benih yang Tertanam

 

 

Di tengah semua ranjau ini, ada sebuah benih yang tertanam benih dari Dzat-Nya. Benih ini sudah ada dalam diri setiap manusia sejak awal. Ia tidak perlu dicari, karena ia sudah ada. Yang perlu kita lakukan hanyalah merawatnya menyiram, memupuk, dan membiarkannya tumbuh.

 

Namun puisi ini juga jujur: "mungkin merawatnya saja tak bisa aku." Ini adalah pengakuan kerendahan hati yang sangat dalam bahwa bahkan untuk merawat benih ini pun, kita membutuhkan

pertolongan dari Dzat yang menanamnya


 

Hubungan antara "ranjau berbaju keindahan" dan "benih yang tertanam" adalah hubungan yang sangat penting dalam puisi ini. Ranjau-ranjau itu menghalangi benih untuk tumbuh. Mereka membuat tanah di sekitar benih menjadi keras, tidak subur, tidak bisa ditembus oleh akar-akar kesadaran spiritual. Tugas kita adalah membersihkan tanah itu bukan dengan kekerasan, bukan dengan pertempuran, melainkan dengan perawatan yang sabar dan penuh kasih.


 

 

Terbangun, Lapar, Menyendiri, Lalu Diam

 

 

Ada sebuah urutan yang sangat menarik dalam puisi ini: "Sudah pernah aku atau kamu terbangun, lapar, menyendiri lalu kemudian diam." Urutan ini bukan kebetulan. Ia menggambarkan sebuah perjalanan spiritual yang sangat khas sebuah perjalanan yang dialami oleh setiap pencari kebenaran sejati.

 

 

Terbangun

 

Momen kesadaran pertama ketika seseorang "terbangun" dari tidur kelalaiannya. Ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar kehidupan duniawi yang ia jalani.

 

 

Menyendiri

 

Perjalanan spiritual sering kali mengharuskan seseorang untuk "menyendiri" bukan dalam pengertian fisik, melainkan dalam pengertian batin. Menyendiri dari kebisingan dunia, dari opini orang lain, dari semua yang mengalihkanperhatian.


 

Lapar

 

Setelah terbangun, muncul sebuah "kelaparan" spiritual sebuah kehausan akan sesuatu yang tidak bisa dipenuhi oleh makanan, harta, atau pujian. Ini adalah lapar yang hanya bisa dipuaskan oleh kehadiran Ilahi.

 

 

Diam

 

Puncak dari perjalanan ini adalah "diam" bukan diam yang kosong, melainkan "diam yang banyak kata, suratan, dan siratan dari sir." Sebuah diam yang penuh, yang berbicara lebih dari seribu kata.


 

 

Frasa "Diam yang banyak kata, suratan, dan siratan dari sir" adalah salah satu frasa yang paling indah dalam puisi ini. Ia menggambarkan sebuah paradoks yang sangat dalam: diam yang justru penuh dengan makna. Dalam tradisi sufistik, diam seperti ini disebut samt diam yang bukan karena tidak ada yang dikatakan, melainkan karena kata-kata sudah tidak mampu lagi mengungkapkan apa yang dialami.

 

 

Ada sebuah kisah tentang seorang sufi yang ditanya: "Apa yang kamu lakukan dalam khalwat (penyendirian) mu?" Ia menjawab: "Aku duduk dalam diam, dan diam itu berbicara kepadaku tentang segala sesuatu." Inilah "diam yang banyak kata" yang dimaksud dalam puisi ini sebuah keadaan di mana keheningan menjadi sebuah bahasa yang lebih kaya dari kata-kata manapun.

 

 

Yang menarik, puisi ini mengatakan "aku atau kamu" bukan "aku dan kamu." Ini mengisyaratkan bahwa dalam keadaan spiritual yang paling dalam, perbedaan antara "aku" dan "kamu" menjadi kabur. Kita semua adalah satu dalam pengalaman spiritual ini. Kita semua pernah "terbangun, lapar, menyendiri, lalu kemudian diam." Dan dalam diam itu, kita semua bertemu di tempat yang sama di tempat di mana sirr kita berbicara dengan Sirr-Nya.








 

 

 

 

Perkawinan Tanpa Pesta Bersanding dengan- Nya

 

 

Salah satu metafora yang paling kuat dan paling indah dalam puisi ini adalah "Bersanding, perkawinan tanpa pesta." Dalam tradisi sufistik, ini merujuk pada sebuah konsep yang sangat dalam: wisāl atau penyatuan spiritual antara jiwa dan Tuhan. Ini bukan penyatuan dalam pengertian fisik atau pantheistik, melainkan sebuah penyatuan dalam pengertian cinta seperti dua kekasih yang akhirnya bertemu setelah lama berpisah.

 

 

"Karena aku atau kamu sudah seyogyanya disana bersama-Nya / Bersanding, perkawinan tanpa pesta, lalu seperti saat sekarang aku atau kamu berdampingan dengan-Nya"

 

 

 

Perhatikan kata "seyogyanya" artinya "seharusnya" atau "sudah seharusnya." Ini mengisyaratkan bahwa keadaan "bersanding dengan-Nya" bukanlah sesuatu yang asing atau jauh dari kita. Ia adalah keadaan asli kita keadaan di mana kita seharusnya berada. Kita seperti ikan yang lupa bahwa ia hidup di air, seperti burung yang lupa bahwa ia bisa terbang. Tugas perjalanan spiritual adalah mengingat kembali keadaan asli ini.

 

 


Perkawinan Tanpa Pesta

 

Perkawinan spiritual ini tidak memerlukan pesta, tidak memerlukan saksi, tidak memerlukan pengakuan dari siapapun. Ia terjadi dalam diam, dalam rahasia, dalam sirr. Hanya jiwa dan Tuhannya yang tahu. Ini adalah perkawinan yang paling intim dari semua perkawinan.

 

"Dari Sana Kita, Disana Seyogyanya Kita Berada"

 

Frasa ini mengisyaratkan bahwa "sana" tempat bersama-Nya bukanlah sebuah tempat geografis. Ia adalah sebuah keadaan keberadaan. Dan keadaan itu, menurut puisi ini, adalah keadaan asli kita. Kita sudah "berada disana" kita hanya perlu sadar akan hal itu.

 

 

 

"Semua Hambar"

 

Ketika seseorang sudah "bersanding dengan-Nya," segala sesuatu yang lain menjadi "hambar" bukan dalam pengertian negatif, melainkan dalam pengertian bahwa tidak ada lagi yang bisa memuaskan seperti kehadiran Ilahi. Seperti seseorang yang sudah minum dari mata air jernih, ia tidak lagi haus pada air yang keruh.


 

 

 

 

Yang sangat menarik dari puisi ini adalah bahwa ia tidak menggambarkan "perkawinan tanpa pesta" ini sebagai sesuatu yang terjadi di masa depan setelah kita mati, setelah kita mencapai tingkatan spiritual tertentu. Sebaliknya, puisi ini

mengatakan: "seperti saat sekarang aku atau kamu berdampingan dengan-Nya." Ini adalah sebuah pengakuan yang sangat radikal: bahwa kehadiran Ilahi bukan hanya ada di "sana" ia ada di sini, sekarang. Kita hanya perlu membuka mata batin kita untuk melihatnya.

 

 

 

Debu yang Mengambang dan Ketak-Terbatasan

 

 

Puisi ini berakhir dengan sebuah gambaran yang sangat puitis dan sangat dalam: "Debunya mengambang disini, tapi dia / Berada di ketak-terbatasan." Ini adalah sebuah pernyataan tentang dua realitas yang ada secara bersamaan realitas dunia yang penuh dengan "debu" (keterbatasan, kekotoran, kebisingan) dan realitas Ilahi yang "berada di ketak-terbatasan" (melampaui semua batas, semua ruang, semua waktu).

 

 

Perhatikan bahwa puisi ini tidak mengatakan bahwa debu itu hilang atau bahwa kita harus melarikan diri dari debu. Debu itu "mengambang disini" ia ada, ia nyata. Namun di saat yang sama, "dia" Sang Dzat "berada di ketak-terbatasan." Kedua realitas ini ada secara bersamaan. Dan tugas kita adalah belajar untuk hidup di antara keduanya untuk hadir dalam dunia yang penuh debu, namun tidak terikat pada debu itu; untuk hidup dalam keterbatasan jasad, namun tidak lupa akan ketak-

terbatasan Dzat-Nya.



Renungan untuk Dibawa Pulang

 

Apakah saya sudah pernah "terbangun, lapar, menyendiri, lalu kemudian diam"? Apakah saya mengenal "diam yang banyak kata" itu? Atau saya masih terlena oleh "ranjau berbaju keindahan"?

 

Laku yang Bisa Ditempuh

 

Setiap hari, luangkan waktu untuk "memusatkan penglihatan ke muka" untuk melihat ke dalam diri sendiri, untuk membersihkan debu dari cermin hati, untuk menyiram dan memupuk benih yang tertanam dalam sirr kita.

 

Harapan Akhir

 

Seandainya tak terhalang jasad, kita akan persa. Namun meskipun terhalang jasad, kita tetap bisa berusaha berusaha untuk merawat benih, berusaha untuk membersihkan cermin, berusaha untuk hadir dalam diam yang penuh makna.


 

 

 

 

 

"Seandainya tak terhalang jasad, aku atau kamu akan persa, benih apa yang Ia tanam."

 

 

 

 

Baris terakhir ini adalah sebuah undangan undangan untuk terus bertanya, terus mencari, terus merawat. Kita mungkin tidak pernah sepenuhnya persa dalam kehidupan ini. Namun justru dalam usaha untuk persa itulah letak keindahan perjalanan spiritual. Seperti kata seorang sufi: "Bukan tentang sampai, melainkan tentang berjalan."

 

 

Semoga kita semua bisa terus "merawat benih" yang tertanam dalam diri kita

 

dengan sabar, dengan tawakkal, dan dengan cinta yang tulus kepada Dzat yang menanamnya. Mugi-mugi kita semua bisa persa.


*

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama