Benih di Balik Cermin
Selamat datang dalam ruang renungan ini — sebuah sarasehan yang mengajak kita menyelami kedalaman makna tersembunyi di balik kata-kata yang tampak sederhana, namun menyimpan samudra makna yang tak bertepi. Malam ini, kita akan berjalan bersama melalui puisi yang bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah dzikir dalam bentuk sastra
— sebuah undangan
untuk mengenal diri sendiri, dan melalui pengenalan itu, mengenal Dzat-Nya.
Puisi yang akan kita renungi bersama malam
ini berbicara tentang pergulatan jiwa manusia yang terjebak dalam raga dan dunia, dalam upayanya untuk kembali menyatu atau menyadari kehadiran Sang
Pencipta. Ia berbicara tentang benih ilahi yang tertanam dalam diri kita, tentang ranjau berbaju keindahan yang membuat batin terlena, tentang cermin yang memantulkan bukan wajah kita, melainkan wajah Dzat yang paling dalam. Dan ia berbicara tentang sebuah keadaan yang disebut "Persa" — sebuah kata Jawa halus yang berarti "tahu"
atau "paham"
secara mendalam, bukan sekadar tahu dengan akal, melainkan tahu dengan seluruh keberadaan jiwa.
Mari kita buka hati dan pikiran kita. Dalam keheningan yang penuh makna, mari kita dengarkan suara lirih yang berbicara dari dalam puisi ini — suara yang mungkin sudah lama kita kenal, namun terlalu sering kita abaikan dalam hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.
"Benih di Balik Cermin"
Banyak batu, Ranjau
berbaju
keindahan
Sewajarnya
batin terlena
Baju ini
terkadang menghalangi
pandangan
Menghalangi sir-sir yang sebenarnya mulai berbenih
Benih itu dzat-Nya, menampik, bahkan memintanya bukan tugasku
Mungkin merawatnya, mungkin merawatnya saja tak bisa aku Hanya berusaha, berusaha untuk merawatnya
Menyiram, memupuk, tapi
tak ada kuasa mencabutnya aku
Beberapa janji yang tak pernah aku tahu cara menepatinya
Berusaha merawat mungkin usaha untuk menepatinya
Sudah pernah aku atau kamu terbangun, lapar, menyendiri lalu kemudian diam
Diam yang banyak kata, suratan, dan siratan dari sir
Yang kemudian tak akan tahu duka, bahkan cita, semua hambar
Karena aku atau kamu sudah seyogyanya disana bersama-Nya
Bersanding,
perkawinan tanpa pesta, lalu seperti saat sekarang aku atau kamu berdampingan dengan-Nya
Dari sana kita, disana seyogyanya kita berada
Banyak batu, ranjau
berbaju
keindahan, sudah sewajarnya
kita
terlena
Jangan tatap aku, dinding, atau pintu
Dimuka ada cermin
Pusatkan penglihatanmu ke muka, Tak perlu menoleh ke kiri atau ke kanan
Debunya mengambang disini, tapi dia
Berada di ketak-terbatasan.
Seandainya tak terhalang jasad, aku atau kamu akan persa, benih apa yang Ia tanam.
Pergulatan Jiwa dalam Raga
Puisi ini berbicara tentang sebuah pergulatan yang sangat manusiawi: jiwa yang rindu pulang,
namun terikat dalam raga. Jiwa yang ingin menyatu dengan
Sumbernya, namun terhalang oleh dinding-dinding
dunia yang begitu nyata dan begitu menggoda. Ini adalah pergulatan yang kita semua rasakan, meski mungkin tidak semua dari kita mampu mengatakannya dengan kata-kata.
Dalam tradisi sufisme, perjalanan ini dikenal sebagai rihlah ruhiyah — perjalanan spiritual menuju Tuhan. Namun perjalanan ini
bukan perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan ke dalam diri sendiri, ke lapisan-lapisan terdalam
dari kesadaran kita, ke tempat di mana ruh kita masih ingat akan asal-usulnya sebelum ia turun ke dunia ini. Seorang sufi berkata: "Tuhan lebih
dekat kepadamu daripada urat lehermu."
Namun mengapa kita merasa begitu jauh? Karena ada banyak lapisan yang harus kita tembus — lapisan-lapisan yang dibangun oleh keinginan, oleh ketakutan, oleh kebiasaan, dan oleh semua "ranjau
berbaju keindahan" yang disebutkan
dalam puisi ini.
Jiwa (Ruh)
Bagian terdalam
dari diri kita yang berasal dari Dzat-Nya. Ia rindu untuk kembali menyatu dengan Sumbernya, seperti setetes air yang rindu kembali ke lautan. Jiwa inilah yang "terbangun, lapar, menyendiri" — yang merasakan kehausan akan sesuatu yang
melampaui dunia.
Raga (Jasad)
Wadah yang menampung jiwa di dunia ini. Raga adalah
"baju"
yang disebutkan dalam puisi — ia diperlukan, namun ia juga bisa menjadi penghalang. Raga memiliki kebutuhan, keinginan, dan keterbatasannya sendiri yang sering kali membuat jiwa terlena dan
lupa akan tujuan sejatinya.
Dunia
Medan pergulatan. Dunia adalah tempat di mana "banyak batu, ranjau berbaju keindahan" bertebaran. Ia tidak jahat pada dirinya sendiri, namun ia penuh
dengan godaan yang membuat batin terlena dan lupa akan dzikir
yang sesungguhnya.
Yang menarik dari puisi ini
adalah bahwa ia tidak menggambarkan pergulatan ini
sebagai sesuatu yang dramatis atau penuh gejolak. Sebaliknya, ia digambarkan dengan
nada yang tenang, hampir seperti sebuah pengakuan yang tulus di tengah malam yang sunyi. Ini mencerminkan sebuah pemahaman sufistik yang mendalam: bahwa perjalanan spiritual bukanlah tentang pertempuran yang keras, melainkan tentang kesadaran yang perlahan-lahan tumbuh — seperti benih yang berkecambah dalam diam.
Sir — Rahasia Terdalam Jiwa
Dalam kosakata sufisme, kata "Sir" (atau sirr dalam bahasa Arab) merujuk pada lapisan terdalam
dari hati manusia — sebuah ruang yang begitu rahasia, begitu intim, sehingga hanya Tuhan dan jiwa itu sendiri yang dapat memasukinya. Ia adalah
"mata batin terdalam," tempat di mana komunikasi antara hamba dan Penciptanya terjadi tanpa kata, tanpa ritual, tanpa perantara. Ia adalah ruang munajat yang paling
murni.
Para sufi membagi hati manusia ke dalam beberapa lapisan. Yang paling luar adalah qalb (hati), kemudian fuad (inti hati), kemudian lubb (teras hati), dan yang paling
dalam adalah sirr — rahasia. Di lapisan sirr inilah, menurut para sufi, Tuhan "bersemayam"
dalam pengertian spiritual. Ia adalah tempat pertemuan antara yang fana dan yang Baqa (Kekal). Ketika
seseorang mencapai lapisan ini dalam perjalanan spiritualnya, ia tidak lagi berdoa dengan
kata-kata — ia menjadi doa itu
sendiri.
Sir sebagai Rahasia
Sebuah ruang yang tidak dapat diakses oleh orang lain, bahkan oleh diri kita sendiri tanpa latihan spiritual yang mendalam. Ia adalah "rahasia" antara hamba dan
Tuhannya.
Sir sebagai Mata Batin
Kemampuan untuk "melihat"
yang tidak kasat mata untuk merasakan kehadiran Ilahi dalam keheningan, dalam diam, dalam
setiap helaan napas.
Sir yang Berbenih
Dalam puisi ini, sir-sir "mulai berbenih" — artinya, potensi untuk menyadari kehadiran Ilahi sudah tertanam dalam diri setiap manusia, menunggu untuk disirami dan
dipupuk.
Ketika puisi ini mengatakan "Menghalangi sir-sir yang sebenarnya mulai berbenih,"
ia berbicara tentang bagaimana dunia — dengan segala "baju keindahannya"
— dapat menutupi lapisan terdalam
ini. Kita menjadi terlalu sibuk dengan
yang luar, sehingga
lupa bahwa di dalam diri kita ada sebuah ruang suci yang menunggu untuk dijamah. Kita seperti seseorang yang sibuk membersihkan bingkai cermin, namun lupa bahwa cermin itu sendiri sudah tertutup debu.
Yang menarik, puisi ini
menggunakan bentuk jamak: sir-sir. Ini mengisyaratkan bahwa setiap manusia memiliki sirr-nya sendiri — sebuah rahasia unik antara dirinya dan Tuhannya. Tidak ada dua sirr yang sama, karena tidak ada dua perjalanan
spiritual yang identik. Setiap jiwa memiliki jalannya sendiri menuju Dzat-Nya.
Persa — Tahu yang Melampaui Akal
Kata "Persa" dalam bahasa Jawa halus atau kuno berarti "tahu" atau "paham." Namun dalam
konteks puisi ini, "tahu"
yang dimaksud bukan sekadar tahu dengan akal budi, bukan sekadar tahu dengan
membaca atau mendengar. Ini adalah tahu yang datang dari pengalaman langsung — sebuah pengetahuan yang meresap ke dalam seluruh keberadaan seseorang, seperti air yang meresap ke dalam tanah.
Dalam tradisi spiritual Jawa, ada perbedaan yang sangat penting antara ngerti (tahu secara intelektual) dan persa (tahu secara eksistensial). Seseorang bisa ngerti tentang Tuhan — ia bisa membaca kitab-kitab, mendengarkan ceramah, menghafal dalil-dalil. Namun untuk persa, ia harus mengalami sendiri. Ia harus "terbangun, lapar, menyendiri, lalu kemudian
diam" — seperti yang digambarkan dalam puisi ini. Hanya melalui pengalaman itulah seseorang bisa benar-benar persa.
Ngerti (Tahu Intelektual)
·
Diperoleh melalui belajar dan membaca
·
Tinggal di permukaan pikiran
·
Dapat disampaikan dengan kata-kata
·
Bersifat
sementara dan bisa terlupakan
·
Tidak mengubah cara seseorang hidup
Persa (Tahu Eksistensial)
· Diperoleh melalui pengalaman langsung
· Meresap ke dalam seluruh keberadaan
· Sering kali tak terungkapkan dengan kata
·
Menjadi bagian dari diri yang permanen
·
Mengubah cara seseorang memandang dunia
Baris terakhir puisi ini sangat menggugah: "Seandainya tak terhalang jasad, aku atau kamu akan persa, benih apa yang Ia tanam."
Ini adalah sebuah pengakuan yang tulus tentang keterbatasan manusia. Kita ingin tahu — kita ingin persa — namun ada sesuatu yang menghalangi kita. Dan penghalang itu, menurut puisi ini, adalah jasad kita sendiri.
Ini bukan berarti raga adalah sesuatu yang jahat. Dalam pandangan sufistik yang seimbang, raga adalah amanah — sebuah titipan yang harus dijaga. Namun raga juga memiliki keterbatasannya. Ia terikat pada ruang dan waktu, pada lapar
dan haus, pada sakit dan sehat. Dan selama kita masih terikat pada semua itu, ada sebagian dari kesadaran kita yang tidak pernah sepenuhnya bebas untuk persa. Namun justru di situlah letak keindahan perjalanan spiritual: kita belajar untuk persa meskipun kita masih berjasad. Kita belajar untuk melihat melampaui batas-batas yang diberikan oleh raga kita
Cermin dan Prinsip Man 'Arafa Nafsahu
Metafora "cermin" dalam puisi ini
adalah salah satu metafora yang paling kaya dan paling
dalam dalam tradisi sufistik. Cermin, dalam pengertian biasa, memantulkan apa yang ada di depannya. Namun dalam konteks sufistik, cermin memiliki makna yang jauh lebih dalam. Cermin bukan sekadar memantulkan wajah kita — cermin memantulkan kebenaran tentang siapa kita sebenarnya.
"Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu"
"Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya."
Prinsip ini adalah kunci untuk memahami seluruh puisi ini. Jika kita ingin mengenal Tuhan, kita tidak perlu pergi jauh-jauh. Kita tidak perlu mendaki gunung atau menyeberangi
lautan. Kita hanya perlu mengenal diri kita sendiri — mengenal
lapisan-lapisan terdalam
dari keberadaan kita, mengenal sirr kita, mengenal benih yang tertanam dalam
diri kita. Karena di
situlah, menurut tradisi ini, Tuhan "bersemayam"
dalam pengertian spiritual.
Cermin sebagai Diri Sendiri
Ketika puisi mengatakan "Dimuka ada cermin / Pusatkan penglihatanmu ke muka,"
ia mengajak kita untuk berhenti mencari Tuhan di luar diri kita. Tuhan tidak ada di "aku, dinding, atau pintu" — Tuhan ada dalam
cermin diri kita sendiri. Mencari Tuhan di luar adalah seperti mencari kacamata yang sedang kita pakai.
Cermin yang Berdebu
"Debunya mengambang disini" debu ini adalah segala sesuatu yang menutupi kejernihan cermin kita: ego, keinginan duniawi, keterikatan, dan semua "ranjau berbaju keindahan." Cermin yang berdebu tidak bisa memantulkan dengan jelas. Demikian pula, hati yang tertutup debu dunia tidak bias "melihat" dengan
jelas.
Tak
Perlu Menoleh ke Kiri atau Kanan
Instruksi ini sangat penting dalam konteks spiritual. "Kiri
dan kanan"
melambangkan
segala sesuatu yang mengalihkan perhatian kita dari tujuan utama. Dalam perjalanan spiritual, godaan untuk "menoleh"
untuk terdistraksi oleh hal-hal duniawi — adalah godaan yang paling umum dan
paling berbahaya.
Yang sangat indah
dari metafora cermin ini adalah bahwa cermin tidak pernah berusaha untuk memantulkan. Ia hanya ada dalam keadaan bersih, dan pantulan terjadi dengan sendirinya. Demikian pula dalam spiritualitas: kita tidak bisa menghasilkan kesadaran spiritual dengan usaha keras. Kita hanya bisa membersihkan cermin kita — menyiram, memupuk, merawat benih — dan membiarkan sisanya terjadi dengan sendirinya. Ini adalah sebuah pelajaran tentang tawakkal yang sangat dalam.
Ranjau Berbaju Keindahan dan Benih yang Tertanam
Salah satu frasa yang paling kuat dalam puisi ini adalah "Banyak batu, Ranjau berbaju keindahan." Ini adalah sebuah gambaran yang sangat tepat tentang bagaimana godaan dunia bekerja. Godaan yang paling berbahaya bukanlah godaan yang tampak jahat atau menakutkan. Godaan yang paling berbahaya adalah
godaan yang tampak
indah yang datang dengan wajah yang ramah, dengan janji-janji yang menggoda, dengan kemasan yang begitu menarik sehingga
kita tidak sadar bahwa itu adalah sebuah "ranjau."
Dalam bahasa Jawa, ada ungkapan "gula anget" gula yang hangat, sesuatu yang tampak
manis namun bisa membakar. Demikian pula dengan "ranjau berbaju keindahan"
ini. Ia bisa berupa pujian yang membuat kita sombong, harta yang membuat kita lupa diri, jabatan yang membuat kita merasa lebih dari orang lain, atau bahkan pengetahuan spiritual yang membuat kita merasa lebih "suci" dari orang lain. Semua ini adalah "baju keindahan" yang bias membuat batin kita terlena.
Ranjau-Ranjau yang Umum
Ketenaran dan pujian — membuat kita terikat pada pengakuan orang lain
Harta dan kekayaan — membuat kita lupa bahwa semua itu hanya titipan
Pengetahuan tanpa amal — membuat kita
merasa sudah "tiba" padahal belum
Ibadah tanpa kehadiran hati — ritual tanpa ruh, bentuk tanpa isi
Kenyamanan duniawi — membuat kita nyaman terlena dan lupa untuk "terbangun"
Benih yang Tertanam
Di tengah semua ranjau ini, ada sebuah benih yang tertanam — benih dari Dzat-Nya. Benih ini sudah ada dalam diri setiap manusia sejak awal. Ia tidak perlu dicari, karena ia sudah ada. Yang perlu kita lakukan hanyalah merawatnya — menyiram, memupuk, dan membiarkannya tumbuh.
Namun puisi ini juga jujur: "mungkin merawatnya saja tak bisa aku."
Ini adalah pengakuan kerendahan hati yang sangat dalam bahwa bahkan untuk merawat benih ini pun, kita membutuhkan
pertolongan
dari Dzat yang menanamnya
Hubungan antara "ranjau berbaju keindahan" dan "benih yang tertanam"
adalah hubungan
yang sangat penting dalam puisi ini. Ranjau-ranjau itu menghalangi benih untuk
tumbuh. Mereka membuat tanah di sekitar benih menjadi keras, tidak subur, tidak bisa ditembus oleh akar-akar kesadaran spiritual. Tugas kita adalah membersihkan tanah itu — bukan dengan kekerasan, bukan dengan pertempuran, melainkan dengan perawatan yang sabar dan penuh kasih.
Terbangun, Lapar, Menyendiri, Lalu Diam
Ada sebuah urutan yang sangat menarik dalam puisi ini: "Sudah pernah aku atau kamu terbangun, lapar, menyendiri lalu kemudian diam."
Urutan ini bukan kebetulan. Ia
menggambarkan sebuah perjalanan spiritual yang sangat khas — sebuah
perjalanan yang dialami oleh setiap pencari kebenaran sejati.
Terbangun
Momen kesadaran pertama — ketika
seseorang "terbangun" dari tidur kelalaiannya. Ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar kehidupan duniawi yang ia jalani.
Menyendiri
Perjalanan spiritual sering kali mengharuskan seseorang untuk "menyendiri" bukan dalam pengertian fisik, melainkan dalam pengertian batin. Menyendiri dari kebisingan dunia, dari opini
orang lain, dari semua yang mengalihkanperhatian.
Lapar
Setelah terbangun, muncul sebuah "kelaparan"
spiritual — sebuah kehausan akan sesuatu yang tidak bisa dipenuhi oleh makanan, harta, atau pujian. Ini adalah lapar yang hanya bisa dipuaskan oleh kehadiran Ilahi.
Diam
Puncak dari perjalanan ini adalah "diam" —
bukan diam yang kosong, melainkan "diam
yang banyak kata, suratan, dan siratan dari sir." Sebuah diam yang penuh, yang berbicara lebih dari seribu kata.
Frasa "Diam yang banyak kata, suratan, dan siratan dari sir" adalah salah satu frasa yang paling
indah dalam puisi ini. Ia menggambarkan sebuah paradoks yang sangat dalam: diam yang justru penuh dengan
makna. Dalam
tradisi sufistik, diam seperti ini
disebut samt — diam yang bukan karena tidak ada yang dikatakan, melainkan karena kata-kata sudah tidak mampu lagi mengungkapkan apa yang dialami.
Ada sebuah kisah tentang seorang sufi yang ditanya: "Apa
yang kamu lakukan dalam khalwat (penyendirian) mu?"
Ia menjawab: "Aku duduk dalam diam, dan diam itu berbicara kepadaku tentang segala sesuatu." Inilah "diam yang banyak kata" yang dimaksud dalam
puisi ini — sebuah keadaan di mana keheningan
menjadi sebuah bahasa yang lebih kaya dari kata-kata manapun.
Yang menarik, puisi ini
mengatakan "aku atau kamu"
— bukan "aku dan kamu."
Ini mengisyaratkan bahwa dalam
keadaan spiritual yang paling dalam, perbedaan antara "aku" dan "kamu" menjadi kabur. Kita semua adalah
satu dalam pengalaman spiritual ini. Kita semua pernah "terbangun, lapar, menyendiri, lalu kemudian diam." Dan dalam diam itu, kita semua bertemu di tempat yang sama — di tempat di mana sirr kita berbicara dengan Sirr-Nya.
Perkawinan Tanpa Pesta — Bersanding dengan- Nya
Salah satu metafora yang paling kuat dan paling indah dalam puisi ini
adalah "Bersanding, perkawinan tanpa pesta." Dalam tradisi sufistik, ini merujuk pada sebuah konsep yang sangat dalam: wisāl atau penyatuan spiritual antara jiwa dan Tuhan. Ini bukan penyatuan dalam pengertian fisik atau pantheistik, melainkan sebuah penyatuan dalam pengertian cinta — seperti dua kekasih yang akhirnya bertemu setelah lama berpisah.
"Karena aku atau kamu sudah seyogyanya disana bersama-Nya / Bersanding, perkawinan tanpa pesta, lalu seperti saat sekarang aku atau kamu berdampingan dengan-Nya"
Perhatikan kata "seyogyanya"
— artinya "seharusnya" atau "sudah seharusnya."
Ini mengisyaratkan bahwa keadaan
"bersanding dengan-Nya" bukanlah
sesuatu yang asing atau jauh dari kita. Ia adalah keadaan asli kita — keadaan di mana kita seharusnya berada. Kita seperti ikan yang lupa bahwa ia hidup di air, seperti burung yang lupa bahwa ia bisa terbang. Tugas perjalanan spiritual adalah mengingat kembali keadaan asli ini.
Perkawinan Tanpa Pesta
Perkawinan spiritual ini tidak memerlukan pesta, tidak memerlukan saksi, tidak memerlukan pengakuan dari siapapun. Ia terjadi dalam diam, dalam rahasia, dalam sirr. Hanya jiwa dan Tuhannya yang tahu. Ini adalah perkawinan yang paling intim dari semua perkawinan.
"Dari Sana Kita, Disana Seyogyanya Kita Berada"
Frasa ini mengisyaratkan bahwa "sana"
— tempat bersama-Nya —
bukanlah sebuah tempat geografis. Ia adalah sebuah keadaan keberadaan. Dan keadaan itu, menurut puisi ini, adalah keadaan asli kita. Kita sudah "berada disana" — kita hanya perlu sadar akan hal itu.
"Semua Hambar"
Ketika seseorang sudah "bersanding dengan-Nya," segala sesuatu yang lain menjadi "hambar" — bukan dalam pengertian negatif, melainkan dalam pengertian bahwa tidak ada lagi yang bisa memuaskan seperti kehadiran Ilahi. Seperti seseorang yang sudah minum dari mata air jernih, ia tidak lagi haus
pada air yang keruh.
Yang sangat menarik dari puisi ini adalah bahwa ia tidak menggambarkan "perkawinan tanpa pesta"
ini sebagai sesuatu yang terjadi di masa depan — setelah kita mati, setelah kita mencapai某种 tingkatan spiritual tertentu. Sebaliknya, puisi ini
mengatakan: "seperti saat sekarang aku atau kamu berdampingan dengan-Nya." Ini adalah sebuah pengakuan yang sangat radikal: bahwa kehadiran Ilahi bukan hanya ada di "sana"
— ia ada di sini, sekarang. Kita hanya perlu membuka mata batin kita untuk melihatnya.
Debu yang Mengambang dan Ketak-Terbatasan
Puisi ini berakhir dengan sebuah gambaran yang sangat puitis dan sangat dalam: "Debunya mengambang disini, tapi dia / Berada di ketak-terbatasan." Ini adalah sebuah pernyataan tentang dua realitas yang ada secara bersamaan — realitas dunia yang penuh
dengan "debu" (keterbatasan, kekotoran, kebisingan) dan realitas Ilahi yang "berada di ketak-terbatasan" (melampaui semua batas, semua ruang, semua waktu).
Perhatikan bahwa puisi ini
tidak mengatakan bahwa debu itu hilang atau bahwa kita harus melarikan diri dari debu. Debu itu "mengambang
disini" — ia ada, ia nyata. Namun di saat yang sama, "dia"
— Sang Dzat — "berada di ketak-terbatasan." Kedua
realitas ini ada secara bersamaan. Dan tugas kita adalah belajar untuk hidup di antara keduanya — untuk hadir dalam
dunia yang penuh debu, namun tidak terikat pada debu itu; untuk hidup dalam keterbatasan jasad, namun tidak lupa akan ketak-
terbatasan Dzat-Nya.
Renungan untuk Dibawa Pulang
Apakah saya sudah pernah "terbangun, lapar, menyendiri, lalu
kemudian diam"?
Apakah saya mengenal "diam yang banyak kata" itu? Atau saya masih terlena oleh "ranjau berbaju keindahan"?
Laku yang Bisa Ditempuh
Setiap hari, luangkan waktu untuk "memusatkan penglihatan ke muka"
— untuk melihat ke dalam
diri sendiri, untuk membersihkan debu dari cermin hati, untuk menyiram dan memupuk benih
yang tertanam dalam
sirr kita.
Harapan Akhir
Seandainya tak terhalang jasad, kita akan persa. Namun meskipun
terhalang jasad, kita tetap bisa berusaha — berusaha untuk merawat benih, berusaha untuk membersihkan cermin, berusaha untuk hadir dalam diam yang penuh makna.
"Seandainya tak terhalang jasad, aku atau kamu akan persa, benih apa yang Ia tanam."
Baris terakhir ini adalah sebuah undangan — undangan untuk terus bertanya, terus mencari, terus merawat. Kita mungkin tidak pernah sepenuhnya persa dalam kehidupan ini. Namun justru dalam usaha untuk persa itulah letak keindahan perjalanan spiritual. Seperti kata seorang sufi: "Bukan tentang sampai, melainkan tentang berjalan."
Semoga kita
semua bisa terus "merawat benih" yang tertanam dalam diri kita
— dengan sabar, dengan
tawakkal, dan dengan cinta yang tulus kepada Dzat yang menanamnya. Mugi-mugi kita semua bisa persa.
