Sing Mentes Dingkluk, Sing Gabug
Dangak
Sebuah renungan bersama tentang sikap hidup, ketulusan, dan kearifan lokal yang kita warisi dari para leluhur. Tembang ini bukan sekadar nyanyian — ia adalah cermin yang memantulkan wajah kita sebagai manusia yang hidup di tengah masyarakat
Apa Itu Tembang?
Tembang adalah puisi tradisional Jawa yang dilagukan dengan irama yang khas dan penuh makna. Berbeda dengan lagu biasa, tembang bukan hanya tentang melodi yang indah, tetapi tentang pesan yang tersembunyi di balik setiap bait dan kata. Dalam tradisi Jawa, tembang sering digunakan sebagai media untuk menyampaikan ajaran moral, nasihat kehidupan, dan refleksi tentang kondisi manusia. Tembang hidup dan bernapas bersama masyarakat — ia bukan milik panggung besar atau gedung kesenian yang megah, melainkan milik kita semua, milik setiap sudut dusun, setiap beranda rumah, dan setiap malam yang panjang ketika kita duduk bersama.
Di dusun kita, tembang pernah menjadi bagian
dari kehidupan sehari-hari. Ia
dinyanyikan saat orang tua
menidurkan anak, saat para
petani beristirahat di pematang sawah,
saat ibu-ibu mengupas sayuran di teras rumah,
dan saat para
sesepuh berkumpul di balai dusun pada malam-malam panjang. Tembang
adalah cara orang
Jawa dulu bercerita
tentang kehidupan tanpa perlu berpidato panjang lebar. Ia adalah bahasa
hati yang mengalir lewat nada, kata,
dan rasa.
Tembang yang kita bahas malam ini berjudul "Sing Mentès Dingkluk, Sing
Gabug Dangak." Tembang ini
menggambarkan berbagai sikap dan perilaku
manusia dalam menghadapi kehidupan — ada yang menunduk karena malu,
ada yang mendongak karena sombong,
ada yang bingung,
ada yang takut,
dan ada yang tertawa tanpa peduli.
Semua
sikap itu hadir dalam kehidupan kita sehari-hari, dan tembang ini mengajak kita untuk mengenali diri
kita sendiri di dalamnya.
Mengapa Tembang Penting?
Tembang adalah warisan budaya yang mengajarkan kita tentang nilai-nilai kehidupan tanpa menggurui. Ia menyentuh hati lewat kata-kata yang sederhana namun dalam maknanya. Bagi masyarakat dusun, tembang adalah cara para leluhur mewariskan kebijaksanaandari generasi ke generasi — bukan melalui buku teks, melainkan melalui nyanyian yang mudah diingat dan diulang.
Tembang dalam
Kehidupan Kita
Di dusun-dusun Jawa, tembang pernah hidup di setiap sudut kehidupan. Ia dinyanyikan saat bekerja di sawah, saat menidurkan anak, saat berkumpul di malam hari, dan saat ada upacara adat. Tembang adalah cara orang Jawa dulu menyampaikan pesan moral dengan cara yang lembut dan menyentuh hati. Kini, di tengah derasnya arus modernisasi, tembang menjadi pengingat bahwa kita punya akar budaya yang kuat — akar yang perlu kita rawat dan kita teruskan kepada anak cucu kita.
Makna Judul Tembang
"Sing Mentès Dingkluk, Sing Gabug Dangak" — frasa ini menjadi inti dari seluruh tembang. Secara harfiah, kalimat ini menggambarkan dua jenis orang: mereka yang "menthès" (cerdas, pintar, atau berilmu) memilih untuk menunduk, sementara mereka yang "gabug" (bodoh, tidak berilmu) justru mendongak tinggi. Ini adalah gambaran yang sangat kuat tentang kerendahan hati versus kesombongan.
Sing Mentès Dingkluk
Orang yang berilmu, bijak, dan berpengalaman justru memilih untuk
menunduk — bukan karena takut, tetapi karena rendah hati. Mereka tahu bahwa semakin tinggi
ilmu seseorang, semakin
ia menyadari betapa
banyak hal yang belum ia ketahui. Menunduk
di sini adalah simbol
penghormatan kepada sesama dan kepada kehidupan itu sendiri.
Sing Gabug Dangak
Orang yang kurang berilmu atau kurang berpengalaman justru cenderung mendongak — merasa tahu segalanya, merasa paling benar, dan tidak mau belajar dari orang lain. Mendongak di sini adalah simbol kesombongan dan ketidakmauan untuk melihat kenyataan yang ada di depan mata. Mereka terlalu sibuk memandang langit hingga lupa menginjak bumi.
Dalam konteks kehidupan masyarakat dusun, kita bisa melihat kedua sikap ini setiap hari. Ada tetangga yang meski sudah sukses dan berkecukupan, tetap ramah dan mau membantu siapa saja — itulah "menthès dingkluk." Ada pula yang baru sedikit berhasil, sudah sombong dan tidak mau bergaul dengan orang biasa — itulah "gabug dangak." Tembang ini mengajak kita untuk bertanya: di posisi manakah kita berada?
Perlu kita pahami lebih dalam: "mentès" dalam bahasa Jawa tidak sekadar berarti pintar secara akademis. Menthès mencakup kecerdasan hidup — kemampuan untuk membaca situasi, memahami orang lain, dan menempatkan diri dengan tepat. Orang yang menthès tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Ia tahu bahwa menunduk bukan berarti lemah, melainkan bentuk kekuatan yang sejati. Sebaliknya, "gabug" bukan sekadar kurang ilmu, tetapi lebih pada ketidakmauan untuk belajar dan menerima masukan. Orang yang gabug merasa dirinya sudah cukup, sudah tahu segalanya, dan tidak perlu lagi mendengar nasihat dari siapa pun.
Para sesepuh kita dulu sering berkata: "Wong pinter iku kaya pari, semakin berisi semakin merunduk." Padi yang penuh bulir akan selalu menunduk, sementara padi yang kosong akan tegak menjulang. Begitulah perumpamaan yang indah tentang kerendahan hati. Orang yang benar-benar berilmu tidak perlu membuktikan dirinya kepada siapa pun — ia cukup hidup dengan cara yang menunjukkan kebijaksanaannya. Sementara orang yang sombong justru terus-menerus berusaha membuktikan bahwa ia lebih dari orang lain, padahal di dalam hatinya ia rapuh
Bait Pertama: Sorak-Sorak dan Jomblak-Jomblak
"Sorak-sorak kaya weruh-weruha"
"jomblak-jomblak kaya kaged-kageda"
"misak-misek kaya nelangsa-nelangsaa"
![]()
Bait pertama ini menggambarkan tiga kondisi emosional yang sering
kita alami.
"Sorak-sorak" adalah suara riuh,
seperti orang
yang bersorak-sorak karena melihat
sesuatu yang mengejutkan atau
menarik
perhatian. Ini
menggambarkan kecenderungan manusia untuk bereaksi berlebihan terhadap hal-hal yang baru atau yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Kita mudah sekali terpancing untuk bersorak, berkomentar, dan ikut-ikutan tanpa benar-benar memahami apa yang terjadi.
"Jomblak-jomblak" menggambarkan keterkejutan
— mata yang melotot, mulut yang ternganga, tubuh yang kaku karena kaget.
Ini adalah reaksi spontan manusia
ketika menghadapi sesuatu
yang tidak terduga. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang-orang yang langsung terkejut dan bereaksi berlebihan terhadap berita atau informasi baru, tanpa terlebih dahulu memverifikasi kebenarannya.
"Misak-misek" adalah ekspresi kesedihan atau kepedihan yang mendalam. Wajah yang murung, hati
yang berat, dan perasaan nelangsa
yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Ini menggambarkan bahwa tidak semua reaksi kita terhadap kehidupan adalah kegembiraan — ada juga duka, kekecewaan, dan kesedihan yang nyata.
Refrain "Iki kedadéyan sing lagi tekå" diulang
berkali-kali dalam tembang ini, mengingatkan kita bahwa semua kondisi emosional ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan kenyataan yang hidup dan berlangsung di
sekitar kita setiap saat. Kita tidak bisa berpura-pura tidak melihatnya.
Dalam kehidupan dusun kita, ketiga
kondisi ini sangat mudah kita temukan. Ketika ada berita
yang menyebar cepat — entah tentang harga pupuk yang naik, tentang proyek pembangunan yang akan masuk, atau
tentang konflik antar tetangga — kita bisa melihat
bagaimana reaksi warga
berlapis-lapis. Ada yang langsung bersorak dan berkomentar panjang lebar tanpa tahu duduk perkaranya. Ada yang terkejut
dan bingung tidak
tahu harus berbuat apa. Dan ada yang langsung merasa sedih
dan nelangsa
sebelum sempat mencari
tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Para leluhur kita melalui tembang ini seolah berpesan: janganlah kita menjadi orang yang mudah terbawa arus emosi. Sebelum bersorak, pikirkan dulu apakah yang kita soraki
itu benar. Sebelum kaget dan panik,
tenangkan dulu hati dan pikiran. Sebelum nelangsa dan
berputus asa, coba lihat lagi apakah masih ada jalan keluar. Tembang ini mengajarkan
kita untuk tidak
reaktif, melainkan responsif — untuk merespons kehidupan
dengan kepala dingin dan hati yang jernih.
.
Bait Kedua: Bingung, Dunung, dan Wedi
![]()
Bait kedua ini menghadirkan tiga kondisi yang lebih dalam dan lebih personal. "Mosak-masik" menggambarkan kebingungan — wajah yang berkerut,
pikiran yang ruwet, tidak
tahu harus berbuat apa. Kebingungan
adalah kondisi
yang sangat manusiawi, terutama ketika kita menghadapi situasi yang belum pernah kita alami sebelumnya atau
ketika kita harus membuat keputusan yang sulit.
"Monthak-manthuk" adalah gerakan mengangguk-angguk, seolah-olah mengerti dan memahami, padahal
mungkin sebenarnya tidak. Ini adalah gambaran yang sangat relevan
tentang orang yang pura-pura tahu, pura-pura mengerti,
atau sekadar ikut-ikutan tanpa pemahaman yang mendalam. Dalam bahasa Jawa, ada
ungkapan "ngerti seprene" — mengerti sedikit, tapi merasa sudah tahu segalanya.
"Mloya-mlayu" adalah berlari
ke sana ke mari, seperti orang
yang ketakutan dan tidak tahu harus lari ke mana. Rasa takut adalah emosi yang sangat kuat dan sering
kali membuat kita bertindak tanpa berpikir panjang. Kita lari dari masalah, lari dari tanggung jawab, atau lari
dari kenyataan yang tidak ingin kita hadapi.
Kebingungan (Mosak- masik)
Wajar merasa bingung ketika menghadapi hal baru. Yang penting adalah mau bertanya dan belajar, bukan pura-pura tahu.
Pura-pura Mengerti (Monthak-manthuk)
Mengangguk tanpa memahami adalah bahaya yang nyata. Lebih baik mengaku tidak tahu daripada berpura-pura mengerti.
Ketakutan (Mloya- mlayu)
Rasa takut adalah manusiawi, tetapi lari dari masalah tidak
pernah menyelesaikan apa pun. Hadapi dengan tenang dan bijak.
Ketiga kondisi dalam bait kedua ini saling berkaitan dan membentuk sebuah siklus yang sering kita alami. Kita bingung menghadapi sesuatu, lalu karena malu mengakui kebingungan itu, kita pura-pura mengerti dengan mengangguk- angguk. Kemudian ketika situasi semakin tidak terkendali dan kepura-puraan kita mulai ketahuan, kita ketakutan dan lari dari tanggung jawab. Ini adalah pola yang sangat umum dalam kehidupan bermasyarakat.
Di dusun kita, contoh nyatanya bisa kita lihat dalam berbagai situasi. Misalnya, ketika ada program baru dari pemerintah yang belum kita pahami — alih-alih bertanya kepada pihak yang berwenang, kita malah mengangguk- angguk seolah sudah paham. Lalu ketika program itu berjalan dan ternyata tidak sesuai harapan, kita bingung dan akhirnya memilih diam atau bahkan menghindar dari tanggung jawab kita sebagai warga. Atau dalam konteks yang lebih sederhana: ketika ada rapat warga dan kita tidak paham pembahasannya, kita ikut mengangguk saja. Lalu ketika ada keputusan yang ternyata merugikan, kita baru sadar dan ketakutan, tetapi sudah terlambat.
Tembang ini mengingatkan kita untuk jujur kepada diri sendiri. Kalau bingung, katakan bingung. Kalau tidak paham, tanya. Kalau takut, akui dan cari cara untuk menghadapinya. Kejujuran kepada diri sendiri adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan sejati.
Bait Ketiga: Bodoh, Senang, dan
Tidak Peduli
"Mencla-mencle kaya bodho-bodhoa"
"Guya-guyu kaya bungah-bungaha"
"Gedhak-gedhek kaya ora-oraa"
Bait ketiga
ini adalah bait yang paling menohok karena menggambarkan tiga sikap yang sering kita
lihat dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan mungkin tanpa kita sadari bahwa kita pun pernah melakukannya.
"Mencla-mencle" adalah ekspresi orang yang berpura-pura bodoh — mata yang melirik-lirik, wajah yang dibuat tidak
mengerti, padahal
sebenarnya tahu. Ini adalah sikap menghindar dari tanggung jawab dengan berpura-pura tidak tahu
apa-apa. Dalam bahasa sehari-hari, kita sering menyebutnya "sok lugu" atau "sok tidak tahu."
"Guya-guyu" adalah
tertawa-tawa, bersenang-senang tanpa peduli apa yang terjadi
di sekitar. Ini menggambarkan orang yang hidup dalam kesenangan sendiri, tidak peka terhadap penderitaan orang lain, dan terus tertawa meskipun
di sekitarnya ada masalah yang serius. Bukan berarti kita tidak boleh tertawa dan berbahagia, tetapi tertawa yang tidak pada tempatnya — ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan, ketika ada ketidakadilan yang terjadi — itulah yang dikritik dalam tembang ini.
"Gédhak-gédhék" adalah ekspresi ketidakpedulian yang paling dalam — sikap
"ora-oraå" atau "tidak apa-apa, tidak peduli." Ini
adalah kondisi di mana seseorang sudah tidak lagi memiliki empati terhadap sesama, sudah tidak lagi merasa terganggu oleh ketidakadilan, dan sudah tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Ini adalah penyakit sosial yang paling berbahaya karena ia menggerus rasa kemanusiaan kita secara perlahan.
Ketiga sikap
dalam bait ketiga
ini sebenarnya adalah mekanisme
pertahanan diri yang tidak sehat. Ketika kita berpura- pura bodoh,
kita berusaha menghindari tanggung jawab. Ketika kita terus tertawa di tengah masalah,
kita berusaha melarikan diri dari kenyataan yang pahit.
Dan ketika kita bersikap tidak peduli, kita berusaha melindungi diri dari rasa sakit
yang mungkin kita
rasakan jika kita peduli. Namun, mekanisme pertahanan seperti ini justru
membuat kita semakin jauh dari kemanusiaan kita yang sejati.
Para sesepuh kita dulu mengajarkan bahwa hidup bermasyarakat itu butuh kepekaan. Kalau ada tetangga yang kesusahan, kita tidak bisa berpura-pura tidak tahu. Kalau
ada ketidakadilan di depan mata, kita
tidak bisa terus tertawa. Kalau ada masalah di dusun kita, kita tidak bisa bersikap "ora-oraå." Tembang ini adalah pengingat
bahwa sikap-sikap seperti ini, meski terlihat biasa, sebenarnya menggerus
nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini kita jaga bersama.
![]()
![]()
Bagian ini adalah inti ajaran dari tembang tersebut
— empat sikap yang harus kita miliki
sebagai manusia yang beradab dan bermartabat. Keempat
sikap ini bukan
hanya nilai-nilai Jawa, tetapi nilai-nilai universal yang berlaku
di mana pun dan kapan pun.
Sing Biså Mung Sadermå
Hanya mampu sekadar yang ada — tidak
memaksakan diri melampaui kemampuan, menerima dengan ikhlas apa yang bisa diberikan. Ini adalah sikap rendah
hati yang mengakui keterbatasan diri tanpa merasa minder.
Sing Biså Ora Ngrumångså
Tidak merasa paling tahu, tidak merasa paling benar, tidak merasa paling hebat. Ini adalah kebalikan dari sikap "gabug dangak" — orang yang bijak justru tidak pernah merasa sudah sampai di puncak.
Sing Biså Ora Ketårå
Tidak mudah terpengaruh, tidak mudah terprovokasi, tidak mudah terbawa arus. Ini adalah sikap teguh pendirian yang dilandasi oleh pemahaman yang mendalam, bukan oleh keras kepala.
Sing Biså Ora Jumåwå
Tidak sombong, tidak arogan, tidak meremehkan orang lain. Ini adalah inti dari "menthès dingkluk" — orang yang berilmu
justru paling rendah hati karena ia tahu betapa luasnya ilmu yang belum ia kuasai.
Keempat sikap ini saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan karakter yang utuh. Orang yang "mung sadermå"
— yang menerima keterbatasannya dengan ikhlas — secara alami akan "ora ngrumångså"
karena ia tidak merasa perlu membuktikan dirinya kepada siapa pun. Orang yang tidak merasa paling tahu akan lebih mudah "ora ketårå" — tidak mudah terprovokasi
oleh pujian maupun hinaan.
Dan orang yang tidak mudah terpengaruh akan lebih mampu "ora jumåwå"
— tidak sombong karena ia tidak butuh pengakuan dari luar untuk merasa berharga.
Dalam kehidupan sehari-hari di dusun kita, keempat sikap ini bisa kita terapkan dalam banyak situasi. Misalnya, ketika ada kegiatan gotong royong: kita datang dengan
kemampuan yang kita punya — tidak perlu memaksakan diri
melampaui
batas, tetapi juga tidak berpura-pura tidak mampu. Ketika ada perbedaan pendapat dalam rapat warga:
kita menyampaikan
pendapat dengan rendah hati, tidak merasa paling benar, dan tidak marah ketika pendapat kita tidak diterima. Ketika ada berita
yang belum jelas kebenarannya: kita tidak langsung percaya
dan menyebarkan, melainkan menunggu dan mencari tahu terlebih dahulu. Dan ketika kita berhasil atau
berprestasi: kita tidak sombong dan
meremehkan orang
lain yang belum seberuntung kita.
Para leluhur kita merumuskan keempat
sikap ini bukan
sebagai aturan yang kaku, melainkan sebagai
panduan hidup yang fleksibel
dan penuh kasih. Mereka tahu
bahwa
manusia tidak sempurna, tetapi mereka juga percaya bahwa setiap orang
bisa terus belajar dan bertumbuh menjadi lebih baik. Tembang ini adalah undangan
— undangan untuk melihat diri
kita sendiri dan bertanya: sudahkah kita hidup dengan keempat
sikap ini?
Iki Kedadéyan Sing Lagi
Tekå
Frasa ini diulang berkali-kali dalam tembang, dan pengulangan ini bukan kebetulan. Ini adalah penegasan yang disengaja: semua yang digambarkan dalam tembang ini
bukan cerita masa lalu, bukan dongeng, bukan sesuatu yang sudah lewat. Ini adalah kenyataan yang hidup, yang terjadi
sekarang, di
sini, di tengah-tengah kita.
Ketika kita mendengar "iki kedadéyan sing lagi tekå," kita diajak
untuk membuka mata dan melihat sekeliling
kita. Orang-orang yang sorak-sorak tanpa memahami,
orang-orang yang bingung
dan pura-pura tahu, orang-orang yang tertawa di tengah penderitaan orang lain,
orang-orang yang sombong dan tidak peduli — semua itu ada di sekitar kita.
Mungkin bahkan ada
di dalam diri kita sendiri.
Pengulangan refrain ini juga mengandung makna yang dalam tentang kesadaran. Dalam tradisi Jawa, kesadaran (eling) adalah kunci dari segala kebijaksanaan. Orang yang eling adalah orang yang sadar akan dirinya, sadar akan sekitarnya, dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai manusia. Tembang ini mengajak kita untuk eling — sadar bahwa semua sikap yang digambarkan itu nyata dan hidup di tengah kita.
Melihat
Membuka mata dan mengakui bahwa semua kondisi ini nyata dan terjadi di sekitar kita
Merenungkan
Memahami makna dan dampak dari setiap sikap terhadap diri sendiri dan oranglain
Mengenali
Mengidentifikasi sikap-sikap tersebut dalam diri kita sendiri dan dalam kehidupan bermasyarakat
Berubah
Memilih untuk menjadi "menthès dingkluk" — bijak dan rendah hati dalam setiap tindakan
Refrain ini juga mengandung pesan tentang
urgensi. "Sing lagi tekå" — yang sedang terjadi — berarti kita
tidak bisa menunda-nunda untuk berubah. Tidak bisa berkata "nanti saja," "besok saja," atau "sudah
terlambat."
Sekarang adalah waktunya untuk membuka mata,
mengenali diri, dan memilih sikap yang lebih baik. Para leluhur kita melalui tembang
ini seolah berkata: jangan
tunggu sampai semuanya rusak baru kita sadar. Sadarlah
sekarang, selagi
masih ada waktu.
Di tingkat dusun, refrain ini menjadi pengingat bahwa perubahan harus dimulai dari diri
kita sendiri, dari rumah kita
sendiri, dari lingkungan terdekat kita. Kita tidak bisa menunggu orang lain
berubah lebih dulu. Kita tidak bisa menyalahkan keadaan atau menuding orang lain.
Kalau kita ingin dusun kita menjadi tempat
yang lebih baik, lebih rukun, dan lebih sejahtera, maka perubahan itu harus dimulai dari masing-masing diri
kita — dengan membuka mata
terhadap kenyataan dan memilih
untuk menjadi bagian dari solusi,
bukan bagian dari masalah.
Relevansi dalam
Kehidupan Dusun Kita
Tembang ini mungkin
terdengar seperti puisi lama, tetapi pesannya sangat relevan dengan kehidupan kita di dusun saat ini. Di era media sosial
dan informasi yang begitu
cepat, sikap-sikap yang digambarkan dalam tembang ini justru semakin sering
kita jumpai.
Kita lihat bagaimana orang-orang mudah
sekali bersorak-sorak terhadap berita yang belum jelas kebenarannya. Kita lihat bagaimana banyak yang pura-pura mengerti padahal
tidak. Kita lihat bagaimana ada
yang tertawa dan bersenang- senang sementara tetangga di sebelahnya sedang kesusahan. Dan kita lihat bagaimana kesombongan dan ketidakpedulian semakin
menjadi-jadi.

Nilai "mung sadermå" mengajarkan kita untuk berkontribusi sesuai kemampuan tanpa pamrih. Gotong royong bukan tentang siapa yang paling banyak memberi, tetapi tentang kebersamaan dan ketulusan. Di dusun kita, semangat gotong royong masih hidup — dalam kerja bakti, dalam membantu tetangga yang hajatan, dalam membangun rumah yang roboh. Ini adalah warisan yang harus kita jaga.
Menghormati yang Lebih Tahu

Sikap "menthès
dingkluk" mengajarkan kita untuk menghormati para sesepuh
dan orang yang lebih berpengalaman. Bukan
karena kita harus selalu setuju dengan mereka,
tetapi karena mereka
memiliki pengalaman hidup
yang berharga untuk kita pelajari.
Di dusun kita, para
sesepuh adalah perpustakaan berjalan
— mereka menyimpan pengetahuan tentang tanah, tentang musim, tentang cara hidup yang harmonis dengan alam.
Berani Berkata Jujur
Nilai "ora ngrumångså" mengajarkan kita untuk berani mengakui ketika kita
tidak tahu atau
ketika kita salah. Ini adalah keberanian yang langka tetapi sangat
penting dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam musyawarah dusun, misalnya,
lebih baik kita mengaku tidak paham daripada pura-pura mengerti
lalu mengambil keputusan yang salah.
Namun, kita juga harus jujur mengakui bahwa kehidupan
dusun kita sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Arus modernisasi membawa
banyak kemudahan, tetapi juga membawa perubahan nilai yang kadang mengikis kearifan lokal yang selama ini kita jaga. Anak-anak muda kita lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar daripada di sawah atau di balai dusun. Informasi yang masuk begitu deras, dan tidak semua informasi itu baik untuk kita telan mentah-mentah. Hoaks, fitnah, dan provokasi
menyebar lebih cepat daripada kebenaran.
Dalam konteks inilah tembang ini menjadi semakin relevan.
Ia mengingatkan kita bahwa di tengah segala perubahan ini, ada nilai-nilai dasar yang tidak boleh kita tinggalkan: kerendahan hati, kejujuran, kepedulian, dan ketulusan. Nilai- nilai ini bukan
milik
masa lalu — ia
adalah kompas yang kita butuhkan untuk menavigasi masa kini dan masa depan.
Dusun kita bisa tetap menjadi tempat
yang hangat dan penuh kebersamaan jika kita memilih untuk
hidup dengan nilai- nilai ini, bukan
dengan nilai-nilai individualisme dan ketidakpedulian yang semakin marak.
Menjadi
Menthès yang Dingkluk
Di akhir
sarasehan ini, mari kita renungkan bersama:
ke manakah kita ingin mengarahkan hidup kita? Apakah kita ingin menjadi "gabug
dangak" — sombong, tidak peduli, dan penuh dengan kepura-puraan? Atau kita ingin menjadi "menthès dingkluk" — bijak, rendah hati, dan tulus dalam setiap tindakan?
Pilihan itu ada
di tangan kita. Setiap hari,
dalam
setiap interaksi dengan tetangga,
dalam setiap keputusan yang kita ambil, dalam setiap
respons kita terhadap situasi
yang dihadapi — kita sedang memilih sikap
kita. Tembang ini adalah pengingat yang lembut namun tegas: hiduplah
dengan kerendahan hati, karena hanya dengan kerendahan
hatilah kita bisa terus belajar dan bertumbuh.
Ingatlah
Semakin berisi padi, semakin merunduk. Semakin berilmu
seseorang, semakin
ia rendah hati.
Amalkan
Mulailah dari hal kecil: sapa tetangga, bantu yang kesusahan, akui ketika salah.
Teruskan
Wariskan nilai-nilai ini kepada anak
cucu kita melalui
teladan, bukan sekadar kata-kata.
Kita tidak perlu menjadi orang
yang sempurna. Tidak ada manusia yang sempurna. Yang penting adalah niat untuk terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus berusaha
menjadi lebih baik dari kemarin. Para leluhur kita tidak menuntut kita untuk menjadi sempurna — mereka hanya meminta kita untuk eling, untuk
sadar, dan untuk memilih
jalan yang benar dalam setiap langkah
kita.
Sebagai penutup, mari kita ingat kembali pesan utama tembang ini: hiduplah dengan sederhana, jangan merasa paling
tahu, jangan mudah terpengaruh, dan jangan sombong. Keempat pesan ini adalah bekal yang paling berharga untuk menjalani kehidupan
bermasyarakat. Di dusun kita, di tengah keluarga kita, di antara tetangga-tetangga kita — di sanalah nilai-nilai ini harus kita hidupkan.
"Sing biså mung sadermå, sing biså ora ngrumångså, sing biså ora ketårå, sing biså ora jumåwå."
Sarasehan ini bukan akhir, melainkan awal. Awal dari kesadaran baru, awal dari komitmen untuk hidup dengan lebih baik, dan awal dari tekad untuk menjaga warisan budaya yang kita miliki. Tembang ini akan terus hidup selama kita memilih untuk menghidupkannya — bukan hanya dengan menyanyikannya, tetapi dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita bawapulang pesan ini, bukan sekadar di kepala, tetapi di dalam hati.
Matur nuwun.
Sis Setio
