Ketika Santan Selalu Tentang Kelapa
Kemunafikan Manusia dan Pembenaran atas Kerusakan Moral
Sebuah puisi adalah tamparan — bukan untuk menyakiti, melainkan untuk membangunkan. Puisi ini hadir sebagai cermin yang kita pegang bersama, memantulkan wajah-wajah yang selama ini kita biasakan: wajah yang pandai membungkus kesalahan dengan alasan yang terdengar indah, wajah yang merangkai kata "maklum" dan "manusiawi" sebagai selimut tebal untuk menutupi ketamakan dan ambisi duniawi.
Malam ini, kita duduk bersama bukan sebagai hakim dan terdakwa, melainkan sebagai sesama manusia yang ingin jujur — setidaknya di hadapan diri sendiri. Mari kita buka ruang untuk bertanya: seberapa sering kita membenarkan kesalahan kita sendiri dengan kata-kata yang indah?
Ketika santan selalu tentang kelapa Ketika manis selalu tentang gula Pahit tentang empedu
Dan ketika besar selalu tentang dunia
Maka kaya akan selalu uang
Rakus, tamak dan kejam selalu hewan
Kemudian kesalahan, kemunafikan ketidak jujuran
Selalu tentang kewajaran
Dan harap maklum, manusiawi
Jurang kesengsaraan terbalut keindahan surga
Buah kuldi cuci mulut
Zamzam beralkohol pesta pora
Lampion taman surga
Kedaulatan eming-eming dari Hyang Wenang
Diminta, dirampas sebelum winayah
Dan diberikan, di iyakan dalam bentuk fana
Puisi ini ditulis dengan bahasa yang padat, namun setiap barisnya memuat lapisan makna yang dalam. Ia tidak berteriak — ia berbisik tajam, menusuk pelan-pelan ke dalam kesadaran. Mari kita baca bersama, bukan sekadar dengan mata, tetapi dengan hati yang terbuka.
Bahasa yang Kita Kenal, Namun Lupa
Kita Pahami
Puisi ini dimulai dengan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: santan dan kelapa, manis dan gula, pahit dan empedu. Ini adalah bahasa dapur, bahasa pasar, bahasa ibu kita yang paling purba. Namun justru di situlah kecerdasan penyairnya — ia mengambil hal-hal yang paling biasa untuk membicarakan hal-hal yang paling luar biasa.
Ketika santan selalu dengan kelapa, itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Santan tidak mungkin ada tanpa kelapa. Manis tidak mungkin lepas dari gula. Ini adalah hukum alam yang sederhana, jujur,
dan langsung. Tidak ada yang perlu dibenarkan, tidak ada yang perlu ditutupi. Hubungan antara santan
dan kelapa adalah hubungan yang tulus — keduanya saling mengakui keberadaan satu sama lain tanpa pretensi.
Namun perhatikan apa yang terjadi di bait berikutnya: "Dan ketika besar selalu tentang dunia." Di sinilah puisi mulai bergerak dari alam menuju manusia. "Besar" di
sini bukan sekadar ukuran fisik, melainkan ambisi, kekuasaan, dan pencapaian duniawi. Dan dunia — dunia yang dimaksud adalah dunia materi, dunia yang bisa diukur, dunia yang bisa diraih dengan tangan.
Penyair membangun
sebuah pola logika yang tampak masuk akal: jika A selalu berhubungan dengan
B, maka C
selalu berhubungan dengan
D. Ini adalah cara berpikir yang kita gunakan setiap hari. Namun ketika pola ini diterapkan pada manusia, sesuatu yang aneh terjadi — sesuatu yang mencurigakan.
Kita terbiasa membenarkan hal-hal dengan logika yang tampak masuk akal. "Semua orang juga begitu." "Ini sudah biasa di sini."
"Namanya juga manusia." Kalimat-kalimat ini terdengar seperti santan dan kelapa — alami, wajar, tak terbantahkan. Namun apakah benar demikian? Atau kita hanya terbiasa membungkus kesalahan dengan logika yang terdengar masuk akal?
Dalam kehidupan sehari-hari di dusun kita, pola ini sering muncul tanpa kita sadari. Seorang tetangga yang mengambil sebagian hasil panen orang lain dengan alasan "nanti diganti" — dan semua orang mengerti, semua orang memaklumi. Seorang pedagang yang mengurangi timbangan dengan dalih "ini sudah harga teman"
— dan pembeli pun tersenyum mengerti. Seorang yang berjanji akan membantu, namun ketika saatnya tiba, ia menghilang dengan seribu alasan yang semuanya terdengar masuk akal. Kita semua mengenal pola ini. Kita semua pernah menjadi bagian dari pola ini.
Yang menarik dari puisi ini adalah cara penyair tidak langsung menunjuk pada kesalahan manusia. Ia membangun fondasi terlebih dahulu — fondasi kebenaran alam yang tidak bisa dibantah. Baru kemudian ia menunjukkan bagaimana manusia, dengan kecerdasannya, meniru pola kebenaran alam itu untuk membenarkan hal-hal yang sebenarnya tidak benar. Ini adalah manipulasi yang sangat halus, karena ia menggunakan bahasa kebenaran untuk membungkus kebohongan.
Kaya, Rakus, dan Hewan yang Kita Ciptakan
Sendiri
Apa Kata Puisi
"Maka kaya akan selalu uang / Rakus, tamak dan kejam selalu hewan"
Penyair membuat pernyataan yang tampak sederhana namun sangat provokatif. Kaya diukur dengan uang. Sifat-sifat buruk dikaitkan dengan hewan.
Apa yang Terjadi dalam Hidup Kita
Kita hidup dalam dunia yang mengajarkan: semakin banyak yang kau miliki, semakin besar kau di mata dunia. Uang bukan lagi alat — ia telah menjadi tujuan. Dan ketika uang menjadi tujuan, maka segala cara menjadi sah.
Kita menyebut orang yang rakus sebagai "ambisius." Kita menyebut orang yang tamak sebagai "pandai mencari peluang." Kita menyebut orang yang kejam dalam bisnis sebagai "tegas dan profesional." Bahasa kita telah dikooptasi oleh kepentingan.
Yang lebih menyedihkan: kita tidak hanya memaafkan orang lain — kita memaafkan diri sendiri dengan kata- kata yang sama.
Perhatikan bagaimana puisi ini tidak menyebut nama. Tidak ada tokoh tertentu, tidak ada peristiwa tertentu. Ini adalah puisi tentang kita semua — tentang cara kita secara kolektif telah mengubah makna kata-kata untuk melayani kepentingan kita.
"Rakus, tamak dan kejam selalu hewan" — ini adalah pernyataan yang menarik. Hewan bertindak sesuai nalurinya. Singa memangsa karena itu nalurinya. Ular menyengat karena itu kodratnya.
Mereka tidak berpura-pura menjadi sesuatu yang lain. Mereka jujur dalam kekejaman mereka.
Namun manusia? Manusia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki hewan: kemampuan untuk membenarkan. Manusia bisa merampas hak orang lain sambil tersenyum, sambil berkata "ini untuk kebaikan bersama." Manusia bisa menipu sambil membawa nama Tuhan. Manusia bisa menghancurkan sambil mengklaim sedang membangun.
Dalam konteks kehidupan kita di dusun, bayangkan situasi ini: ada seseorang yang selama bertahun-tahun mengumpulkan tanah warisan tetangganya sedikit demi sedikit — melalui pinjaman yang tidak pernah ditagih dengan jelas, melalui bantuan yang kemudian "dibalas" dengan sertifikat tanah, melalui hubungan
kekerabatan yang dimanfaatkan dengan halus. Ketika confronted, ia tidak pernah mengakui keserakahannya. Sebaliknya, ia berkata: "Saya hanya membantu mereka yang kesulitan. Mereka sendiri yang menawarkan." Dan sebagian dari kita bahkan percaya, atau setidaknya memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.
Atau bayangkan seorang yang memegang jabatan kecil di lingkungan kita — ketua rukun tetangga, pengurus kas bersama, koordinator bantuan — yang perlahan-lahan mulai menganggap posisi itu sebagai miliknya. Dana yang seharusnya untuk kepentingan bersama mulai "dipinjam" untuk keperluan pribadi. Ketika ditanya, jawabannya selalu sama: "Nanti saya ganti," atau "Ini kan untuk kepentingan bersama juga." Dan karena ia pandai berbicara, karena ia tahu cara menggunakan kata-kata yang tepat, banyak yang akhirnya diam.
Inilah yang dimaksud penyair: hewan tidak pernah melakukan ini. Hewan tidak pernah membungkus naluri mereka dengan retorika yang indah. Hanya manusia yang memiliki kemampuan khusus ini — kemampuan untuk berbohong kepada diri sendiri sambil meyakinkan orang lain bahwa kebohongan itu adalah kebenaran.
Ketika Kesalahan Selalu Tentang Kewajaran
"Kemudian kesalahan, kemunafikan, ketidakjujuran / Selalu tentang kewajaran / Dan harap maklum, manusiawi"
Ini adalah jantung dari puisi ini. Ini adalah tamparan yang paling keras. Dan ini adalah bagian yang paling sulit kita terima — karena ini berbicara langsung tentang kebiasaan kita yang paling dalam.
Perhatikan struktur kalimatnya: "selalu tentang kewajaran." Bukan "kadang-kadang." Bukan "terkadang."
Tapi selalu. Ini adalah pengamatan yang tajam tentang pola yang telah menjadi budaya: setiap kali ada kesalahan, setiap kali ada kemunafikan, setiap kali ada ketidakjujuran — respons pertama kita adalah mencari pembenaran.
Dan pembenaran itu selalu datang dalam bentuk yang sama: "Namanya juga manusia." "Siapa yang tidak pernah salah?" "Ini kan manusiawi." "Harap maklum saja." Kata-kata ini terdengar
seperti kebijaksanaan, seperti kedewasaan, seperti toleransi. Namun di
balik semua itu, ada sesuatu yang berbahaya: normalisasi kesalahan.
Ketika kita mengatakan "manusiawi" untuk setiap kesalahan, kita sebenarnya sedang menurunkan standar kemanusiaan kita sendiri. Kita sedang mengatakan bahwa menjadi manusia berarti boleh berbuat salah tanpa konsekuensi. Kita sedang membangun budaya impunitas — budaya di mana kesalahan tidak pernah benar-benar salah, karena semua orang melakukannya.
Bayangkan jika pola ini terjadi dalam skala yang lebih besar di kehidupan kita. Seorang yang dipercaya mengelola dana bersama mulai mengambil sedikit demi sedikit — dan ketika ketahuan, ia berkata: "Saya hanya meminjam, akan saya kembalikan." Dan kita semua mengangguk, karena "manusiawi." Seorang yang berjanji akan membangun fasilitas untuk dusun menerima dana, namun proyeknya tidak pernah selesai — dan ketika ditanya, ia berkata: "Ada kendala di lapangan, harap maklum." Dan kita semua mengerti, karena "manusiawi." Seorang yang mengetahui ketidakjujuran orang lain memilih diam — karena "bukan urusan saya, namanya juga orang lain." Pola ini berulang, dari hal kecil hingga hal besar, hingga akhirnya kita tidak lagi bisa membedakan mana yang benar-benar manusiawi dan mana yang sekadar pembenaran
atas ketidakjujuran.
Yang paling menyedihkan adalah ketika frasa "harap maklum" dan "manusiawi" ini diucapkan bukan oleh orang yang berbuat salah, melainkan oleh orang-orang di sekitarnya — oleh kita. Kita menjadi bagian dari mekanisme pembenaran ini. Kita menjadi penonton yang bertepuk tangan untuk pertunjukan yang kita tahu salah, karena lebih mudah diam daripada bersuara.
Puisi ini tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh memaafkan. Memaafkan adalah kebajikan yang tinggi. Namun memaafkan yang sejati dimulai dari pengakuan kesalahan yang jujur — bukan dari penyangkalan yang dibungkus kata-kata indah. Memaafkan tanpa pengakuan adalah komplotan, bukan pengampunan.
Ada perbedaan mendasar antara memaklumi kelemahan manusia dan menormalisasi kesalahan. Memaklumi berarti kita memahami bahwa manusia bisa jatuh, namun kita juga mendorongnya untuk bangkit dan bertanggung jawab. Menormalisasi berarti kita mengatakan bahwa jatuh itu wajar, sehingga tidak perlu bangkit, tidak perlu
bertanggung jawab. Yang pertama membangun
karakter; yang kedua merusaknya.
Yang Kita Katakan
"Harap maklum, manusiawi"
Yang Kita Lakukan
Menormalisasi kesalahan
Yang Terjadi
Standar
moral terus turun
Yang Kita Butuhkan
Kejujuran yang berani
Jurang Kesengsaraan Terbalut
Keindahan Surga
Baris ini mungkin adalah baris paling indah sekaligus paling mengerikan dalam puisi ini: "Jurang kesengsaraan terbalut keindahan surga." Dalam tujuh kata, penyair merangkum seluruh tragedi kemunafikan manusia.
Perhatikan kontras yang dibangun: jurang — yang dalam, gelap, berbahaya, tempat orang jatuh dan hancur — dibalut dengan keindahan surga — yang terang, indah, menjanjikan, tempat orang berharap dan berbahagia. Ini adalah gambaran yang sangat tepat tentang bagaimana kemunafikan bekerja: ia mengambil sesuatu yang merusak dan membungkusnya dengan sesuatu yang menarik.
Kita melihat ini setiap hari dalam kehidupan kita. Korupsi dibungkus dengan bahasa "pemberdayaan." Penipuan dibungkus dengan bahasa "investasi." Eksploitasi dibungkus dengan bahasa "kesempatan." Pengkhianatan dibungkus dengan bahasa "kepentingan yang lebih besar."
Setiap kejahatan besar dalam sejarah manusia selalu datang dengan bungkus yang indah.
Dalam konteks yang lebih dekat dengan kita, perhatikan bagaimana bahasa digunakan di sekitar kita. Seorang yang mengambil hak orang lain menyebutnya "mengelola." Seorang yang mengontrol orang lain menyebutnya "membimbing." Seorang yang memanfaatkan hubungan menyebutnya "jaringan." Seorang yang menimbun menyebutnya "menyimpan untuk masa depan." Setiap kata dipilih dengan cermat
bukan untuk mengungkapkan kebenaran, melainkan untuk menyembunyikannya.
Yang lebih halus lagi adalah ketika kita sendiri menjadi korban dari bungkus indah ini — bukan karena kita bodoh, tetapi karena kita ingin percaya. Kita ingin percaya bahwa orang yang kita kenal baik tidak mungkin berbuat jahat. Kita ingin percaya bahwa sistem yang kita jalani adalah sistem yang adil. Kita ingin percaya bahwa kesulitan yang kita alami adalah bagian dari rencana yang lebih besar. Dan
keinginan untuk percaya ini — keinginan yang sangat manusiawi ini — adalah celah yang paling sering dimanfaatkan oleh mereka yang pandai membungkus jurang dengan keindahan surga.
Perhatikan juga frasa "terbalut" — bukan "adalah," bukan "merupakan,"
tapi terbalut. Ini menyiratkan bahwa keindahan surga itu adalah lapisan luar, adalah kemasan, adalah topeng. Di baliknya, tetap ada jurang. Tetap ada kesengsaraan. Keindahan itu tidak mengubah realitas di bawahnya — ia hanya menyembunyikannya dari pandangan.
Ini mengingatkan kita pada buah yang indah di luar namun beracun di dalam. Pada madu yang manis namun dicampur racun. Pada senyum yang hangat namun menyembunyikan pisau. Manusia adalah
satu-satunya makhluk yang mampu menciptakan kemasan yang lebih indah dari isinya — dan kemudian menjual kemasan itu seolah-olah itu adalah isinya.
Dalam tradisi kita, ada ungkapan "gula di ujung lidi" — sesuatu yang manis di depan namun tajam di belakang. Puisi ini membawa kita lebih jauh: bukan sekadar gula di ujung lidi, melainkan seluruh taman surga yang dibangun di tepi jurang. Orang-orang datang menikmati keindahan taman, tanpa menyadari bahwa setiap langkah mereka membawa mereka lebih dekat ke tepi kehancuran.
Buah Kuldi,
Zamzam Beralkohol, dan
Lampion Taman Surga
Tiga baris berikutnya dalam puisi ini menggunakan simbol-simbol yang sangat kuat dari tradisi spiritual kita:
buah kuldi, zamzam, dan lampion taman surga. Masing-masing adalah simbol kesucian, kemurnian, dan kedekatan dengan yang Ilahi. Dan masing-masing dinodai dengan cara yang berbeda.
Buah Kuldi — Cuci Mulut
Khuldi adalah pohon terlarang dalam tradisi Ibrahimik — pohon yang buahnya membawa manusia pada kejatuhan dari surga. Dalam puisi ini, buah terlarang itu bukan lagi sesuatu yang ditakuti atau dihindari — ia telah menjadi cuci mulut. Sesuatu yang biasa, yang dinikmati setelah makan, yang bahkan dianggap sebagai penutup yang menyenangkan.
Apa yang dulunya simbol larangan dan konsekuensi, kini menjadi komoditas harian. Dosa bukan lagi sesuatu yang berat — ia telah menjadi ringan, bahkan menghibur.
Zamzam Beralkohol — Pesta Pora
Air zamzam adalah air suci dari tanah Mekah, air yang dipercaya membawa berkah dan kesembuhan. Dalam puisi ini, air suci itu telah dicampur dengan alkohol — dan bukan untuk keperluan ritual yang serius, melainkan untuk pesta pora.
Ini adalah gambaran yang sangat kuat tentang bagaimana hal-hal yang paling suci dalam kehidupan kita telah diambil, dicampur dengan kepentingan duniawi, dan digunakan untuk kepuasan sesaat.
Yang sakral telah menjadi profan. Yang mulia telah menjadi hiburan.
Lampion taman surga — cahaya yang seharusnya menuntun, kini hanya menjadi hiasan. Kedaulatan yang seharusnya abadi, kini dipertukarkan dengan yang fana.
Perhatikan pola yang dibangun penyair: dari buah terlarang yang menjadi makanan penutup, dari air suci yang menjadi minuman pesta, dari cahaya surgawi yang menjadi dekorasi taman. Ada gerakan yang konsisten dari yang sakral menuju yang profan, dari yang bermakna menuju yang dangkal, dari yang abadi menuju yang sesaat.
Dalam kehidupan kita, ini terlihat dalam banyak bentuk. Ritual keagamaan yang dilakukan bukan karena keyakinan, melainkan karena tradisi sosial — karena "malu kalau tidak ikut." Doa yang dipanjatkan bukan karena ketulusan hati, melainkan karena ada kepentingan yang ingin dicapai. Nama Tuhan yang disebut bukan untuk memuji, melainkan untuk melegitimasi kepentingan duniawi.
Kita tidak perlu mencari contoh yang jauh. Lihatlah bagaimana "tolong" dan "terima kasih" telah menjadi kata- kata kosong yang diucapkan tanpa rasa. Lihatlah bagaimana "mohon maaf" diucapkan bukan karena penyesalan, melainkan karena kewajiban sosial. Lihatlah bagaimana "insya Allah" diucapkan bukan sebagai bentuk penyerahan kepada Tuhan, melainkan sebagai cara untuk tidak berkomitmen secara pasti.
Yang paling menyedihkan adalah ketika kita sendiri tidak menyadari bahwa kita telah melakukan ini. Ketika bahasa sakral kita telah menjadi begitu biasa sehingga kita tidak lagi merasakan bobotnya. Ketika kata-kata yang seharusnya membawa kita lebih dekat kepada kebenaran justru menjadi alat untuk menjauhkan kita darinya.
Puisi ini tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan simbol-simbol ini. Ia mengatakan: perhatikan bagaimana kita menggunakannya. Perhatikan apakah kita masih menghormati makna di balik simbol, atau kita hanya menggunakan cangkangnya sambil membuang isinya.
Kedaulatan Eming-Eming dari Hyang Wenang
"Kedaulatan eming-eming dari Hyang Wenang / Diminta, dirampas sebelum winayah / Dan diberikan, di iyakan dalam bentuk fana"
Bagian penutup puisi ini adalah yang paling dalam secara spiritual dan paling menyedihkan secara manusiawi. Di sini penyair berbicara tentang sesuatu yang melampaui moralitas sehari-hari — ia berbicara tentang hubungan antara manusia dan sumber segala sesuatu, antara yang fana dan yang abadi.
"Hyang Wenang" — dalam tradisi Jawa, ini adalah sebutan untuk Yang Maha Kuasa, Yang Maha Memiliki, sumber dari segala kedaulatan dan kewenangan. "Eming-eming" mengisyaratkan sesuatu yang dipinjamkan, yang dititipkan, yang bukan sepenuhnya milik kita. Dan "winayah" — dari kata "wajah" atau "nyata"
— mengisyaratkan sesuatu yang telah menjadi nyata, telah menjadi milik, telah mengakar.
Apa yang dikatakan penyair adalah ini: ada kedaulatan, ada kewenangan, ada kepercayaan yang dititipkan kepada kita
— bukan karena kita memilikinya secara hakiki, melainkan karena kita dipercaya untuk menjaganya. Namun sebelum kepercayaan itu sempat mengakar, sebelum ia menjadi bagian dari identitas kita yang sejati, ia sudah diminta dan dirampas.
Siapa yang meminta? Siapa yang merampas? Puisi tidak menjawab secara eksplisit — dan ini adalah kecerdasannya. Karena jawabannya adalah kita semua. Kita merampas kepercayaan yang diberikan kepada kita. Kita merampas kesempatan untuk menjadi lebih baik. Kita merampas hak orang lain untuk dipercaya. Kita merampas masa depan dengan mengorbankannya untuk kepuasan masa kini.
Perhatikan juga baris terakhir: "Dan diberikan, di iyakan dalam bentuk fana." Ketika sesuatu yang abadi — kedaulatan, kepercayaan, kewenangan — diberikan kepada kita, kita menerimanya (di iyakan), namun kita menerimanya dalam bentuk yang fana. Kita mengubah yang abadi menjadi yang sementara. Kita mengubah yang sakral menjadi yang duniawi. Kita mengubah titipan menjadi milik pribadi.
Dalam konteks kehidupan kita di dusun, ini bisa dilihat dalam banyak bentuk. Kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang
untuk memimpin — apakah kepercayaan itu dijaga sebagai amanah, atau digunakan sebagai alat untuk kepentingan pribadi? Dana bersama yang dipercayakan kepada seorang pengelola — apakah dana itu dijaga sebagai titipan, atau dianggap sebagai hak yang bisa digunakan? Janji yang diucapkan di hadapan komunitas — apakah janji itu dijaga sebagai komitmen suci, atau sekadar kata-kata yang diucapkan untuk saat itu saja?
Ada sebuah ironi yang dalam di sini: kita sering merasa bahwa kita memiliki posisi kita, memiliki hubungan kita, memiliki kepercayaan yang orang berikan kepada kita. Padahal semuanya adalah titipan. Semuanya bisa diambil kembali. Semuanya bersifat sementara. Dan kesadaran akan hal ini — kesadaran bahwa kita hanyalah penjaga, bukan pemilik — seharusnya mengubah cara kita memperlakukan semua yang ada dalam genggaman kita.
Penyair menggunakan bahasa Jawa yang kaya dengan nuansa spiritual untuk menyampaikan pesan ini. "Eming- eming" bukan sekadar pinjaman — ia adalah sesuatu yang diberikan dengan penuh kepercayaan, dengan harapan bahwa penerima akan menjaganya dengan baik. "Winayah" bukan sekadar menjadi nyata — ia adalah proses menjadi bagian dari diri seseorang, menjadi karakter yang mengakar. Ketika sesuatu dirampas "sebelum winayah," itu berarti proses pembentukan karakter itu tidak pernah selesai — kepercayaan itu diambil sebelum ia sempat mengubah
orang yang menerimanya menjadi lebih baik.
Yang Diberikan
Kedaulatan, kepercayaan, kewenangan — titipan dari Hyang Wenang
Yang Terjadi
Dirampas sebelum sempat mengakar, sebelum menjadi bagian dari diri yang sejati
Yang Kita Lakukan
Menerima dalam bentuk fana — mengubah yang abadi menjadi yang sementara
Pertanyaan yang Harus Kita Tanyakan pada Diri
Sendiri
Puisi ini bukan untuk dibaca lalu dilupakan. Ia bukan hiburan malam yang kita nikmati lalu kita pulang dengan perut kenyang dan hati kosong. Ia adalah undangan — undangan untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam, dan bertanya dengan jujur.
Berikut adalah beberapa pertanyaan yang bisa kita renungkan bersama malam ini. Tidak ada jawaban yang benar atau salah — yang penting adalah keberanian untuk bertanya:
Kapan terakhir kali saya mengatakan "manusiawi" untuk membenarkan kesalahan saya sendiri?
Bukan kesalahan orang lain — kesalahan saya sendiri. Kapan terakhir kali saya menggunakan kata itu bukan untuk menunjukkan empati kepada orang yang jatuh, melainkan untuk membebaskan diri saya dari tanggung jawab atas kesalahan yang saya perbuat?
Apakah saya pernah membungkus kepentingan pribadi saya dengan
bahasa yang terdengar seperti kepentingan bersama?
Ini adalah pertanyaan yang sulit, karena seringkali kita sendiri tidak menyadari bahwa kita melakukannya. Manipulasi yang paling berbahaya adalah manipulasi yang dilakukan tanpa kesadaran — ketika kita sudah begitu terbiasa membenarkan diri sehingga kita benar-benar percaya pada pembenaran kita sendiri.
Apa yang saya lakukan dengan kepercayaan yang orang berikan kepada saya?
Kepercayaan itu bisa berupa jabatan kecil, bisa berupa rahasia yang dibagikan, bisa berupa uang yang dipinjamkan, bisa berupa anak yang dititipkan untuk diajari. Apa yang kita lakukan dengan semua kepercayaan itu? Apakah kita menjaganya sebagai amanah, atau kita menggunakannya untuk kepentingan kita?
Apakah saya lebih sering membela kebenaran, atau lebih sering membela orang yang saya kenal?
Ini adalah pertanyaan yang menyakitkan. Karena seringkali kita tahu sesuatu itu salah — namun karena pelakunya adalah saudara kita, teman kita, tetangga kita, kita memilih diam. Kita memilih "harap maklum" daripada kejujuran. Dan diam kita itu adalah bagian dari mekanisme pembenaran yang dikritik puisi ini.
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dirancang untuk membuat kita merasa bersalah. Rasa bersalah yang tidak produktif hanya akan membuat kita lumpuh. Pertanyaan-pertanyaan ini dirancang untuk membuat kita sadar — dan kesadaran adalah langkah pertama dari perubahan.
Yang perlu kita pahami bersama adalah bahwa pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya untuk individu secara terpisah. Ini adalah pertanyaan untuk kita sebagai komunitas. Karena kemunafikan yang dikritik puisi ini bukan hanya kemunafikan individu — ia adalah kemunafikan yang telah menjadi budaya, yang telah menjadi norma, yang telah menjadi cara kita berinteraksi satu sama lain. Dan budaya hanya bisa diubah oleh komunitas, bukan oleh individu yang berjuang sendirian.
Mari kita bayangkan sebuah skenario sederhana: di dusun kita, ada sebuah proyek pembangunan fasilitas bersama yang dananya dikelola oleh beberapa orang. Lalu terdengar kabar bahwa ada ketidakberesan dalam pengelolaan dana tersebut. Apa yang biasanya terjadi? Sebagian dari kita akan berkata: "Ah, sudahlah, jangan dicari-cari, nanti malah jadi masalah." Sebagian lain: "Siapa yang berani bicara? Nanti kita yang repot." Sebagian lagi: "Namanya juga manusia, pasti ada
salahnya." Dan hanya segelintir — mungkin tidak ada — yang berkata: "Mari kita bicara dengan jujur, karena ini menyangkut
kepercayaan kita semua."
Pola respons ini adalah contoh nyata dari "jurang kesengsaraan terbalut keindahan surga."
Kita membungkus ketakutan kita, ketidakpedulian kita, dan kompromi kita dengan bahasa yang terdengar bijak: "jangan mencari masalah," "jaga kerukunan," "namanya juga manusia." Padahal di balik semua itu, ada ketidakjujuran yang kita biarkan tumbuh, ada kepercayaan yang kita biarkan dikhianati, ada standar yang kita biarkan turun.
Sebelum Kita Pulang Malam Ini
Kita datang ke sarasehan ini sebagai warga dusun yang sama — dengan latar belakang yang berbeda, dengan pengalaman yang berbeda, dengan kesalahan yang berbeda. Namun kita berbagi satu hal yang paling penting: kita semua adalah manusia yang bisa salah, dan kita semua adalah manusia yang bisa berubah.
Puisi "Ketika Santan Selalu dengan Kelapa" tidak ditulis untuk menghakimi kita. Ia ditulis karena ada harapan
— harapan bahwa kita masih bisa jujur, masih bisa melihat diri kita dengan mata yang terbuka, masih bisa memilih untuk berbeda dari pola yang telah kita biasakan.
Yang Puisi Ini Katakan
Kita pandai membungkus kesalahan dengan kata- kata indah. Kita terbiasa menormalisasi yang tidak normal. Kita telah mengubah yang sakral menjadi yang biasa. Kita merampas kepercayaan sebelum sempat menjaganya.
Yang Puisi Ini Harapkan
Bahwa setelah membaca ini, kita berhenti sejenak. Bahwa kita bertanya pada diri sendiri dengan jujur. Bahwa kita memilih untuk tidak lagi menggunakan "manusiawi" sebagai selimut untuk kesalahan kita. Bahwa kita mulai menjaga kepercayaan sebagai amanah, bukan sebagai hak milik.
Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa: "Ajining diri gumantung ana ing lathi" — harga diri seseorang terletak pada ucapannya. Bukan pada apa yang ia miliki, bukan pada seberapa
tinggi posisinya, bukan pada seberapa banyak pengikutnya — melainkan pada apakah ucapannya bisa dipercaya, apakah janjinya bisa dipegang, apakah kata-katanya mencerminkan isi hatinya.
Malam ini, mari kita pulang dengan satu komitmen sederhana: berhenti membungkus jurang dengan keindahan surga. Berhenti menggunakan kata-kata yang indah untuk menutupi hal-hal yang tidak benar. Berhenti mengatakan "manusiawi" setiap kali kita ingin lari dari tanggung jawab.
Ini bukan tentang menjadi sempurna. Ini tentang menjadi jujur — setidaknya jujur pada diri sendiri. Karena hanya dari kejujuran itulah perubahan yang sejati bisa dimulai.
Kita tidak perlu mengubah dunia malam ini. Kita hanya perlu mengubah satu hal: keberanian untuk melihat diri kita apa adanya, tanpa bungkus, tanpa topeng, tanpa kata "harap maklum" yang siap sedia di ujung lidah. Dan jika kita bisa melakukan itu — jika kita bisa duduk dalam ketidaknyamanan kejujuran itu — maka mungkin, hanya mungkin, kita bisa mulai membangun sesuatu yang lebih nyata daripada lampion taman surga yang hanya indah dari luar.
Sebagai penutup, mari kita ingat bahwa puisi ini dimulai dengan santan dan kelapa — dua hal yang tidak bisa dipisahkan, dua hal yang jujur dalam hubungannya satu sama lain. Mungkin itu yang kita butuhkan: kembali ke kejujuran yang sederhana seperti santan dan kelapa. Tidak perlu dibungkus, tidak perlu dihias, tidak perlu
dicari-cari pembenarannya. Apa adanya, karena itulah yang membuat hubungan itu nyata dan bermakna.
"Kebenaran yang tidak dibungkus adalah satu-satunya kebenaran yang bisa membebaskan kita —
bukan dari hukuman dunia, tetapi dari penjara yang kita bangun sendiri untuk diri kita."